Pastor dan Tokoh Agama Asia Kuatkan Solidaritas Tolak Agresi Militer AS di Venezuela

renunganhariankatolik.web.id – Para pastor dan pendeta Kristen di Sri Lanka turun ke jalan bersama aktivis sipil untuk menolak serangan militer Amerika Serikat terhadap Venezuela pada awal Januari 2026. Aksi ini berlangsung di depan Kedutaan Besar AS di Colombo. Selain pastor, publik dan organisasi masyarakat sipil turut serta menolak kekerasan global. Mereka menegaskan bahwa langkah militer AS melanggar hukum internasional dan merongrong kedaulatan negara lain.
Lebih jauh, pemimpin agama mendesak penghormatan terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Oleh karena itu, mereka menyerukan kepada negara-negara besar untuk menghentikan campur tangan dalam urusan internal negara lain. Menurut mereka, intervensi semacam itu hanya memperburuk konflik dan melemahkan tatanan dunia yang damai.
Solidaritas Asia Semakin Meluas
Selain Sri Lanka, gelombang solidaritas terhadap rakyat Venezuela menyebar di berbagai negara Asia. Massa buruh, pelajar, dan tokoh agama turun ke jalan secara serentak di India, Bangladesh, Nepal, Malaysia, Indonesia, Filipina, dan Korea Selatan. Mereka menuntut pelestarian hukum internasional dan meminta pemerintah bersikap tegas.
Di India, puluhan ribu pengunjuk rasa turun ke jalan di New Delhi dan Hyderabad. Mereka menekankan pentingnya menghormati kedaulatan negara lain. Selanjutnya, tokoh partai dan aktivis sosial di Bangladesh serta Nepal mengecam intervensi militer AS sebagai bentuk agresi imperialistik.
Selain itu, demonstrasi juga terjadi di kawasan Asia Tenggara dan Australia. Massa membawa slogan “Hands off Venezuela!” sebagai simbol penolakan terhadap agresi militer. Dengan kata lain, solidaritas ini menunjukkan kesatuan masyarakat lintas negara dalam menentang tindakan tidak adil.
Gereja dan Aktivis Bersatu untuk Perdamaian
Di Sri Lanka, aksi ini memperlihatkan persatuan antara kelompok agama dan aktivis hak sipil. Mereka membawa spanduk bertuliskan seruan menghormati kedaulatan Venezuela. Pendeta setempat meminta masyarakat internasional mengutamakan diplomasi, bukan kekerasan.
Selain itu, mereka mengajak umat dan masyarakat luas memperjuangkan perdamaian dunia. Mereka mendukung prinsip non-intervensi sebagai landasan hubungan internasional yang adil. Karena itu, aksi ini bukan sekadar protes, tetapi juga bentuk komitmen kolektif untuk melindungi hak setiap bangsa menentukan nasib sendiri.
Penolakan terhadap Pelanggaran Hukum Internasional
Pengunjuk rasa di banyak negara Asia menegaskan bahwa intervensi AS melanggar hukum internasional. Berbagai kelompok masyarakat, termasuk serikat pekerja dan organisasi pelajar, meminta pemerintah masing-masing meminta Dewan Keamanan PBB menggelar sidang darurat.
Selain itu, mereka menekankan bahwa konflik harus diselesaikan melalui diplomasi dan dialog, bukan kekuatan senjata. Dengan demikian, tindakan militer yang tidak melalui jalur diplomatik akan melemahkan persatuan global dan menurunkan kepercayaan masyarakat internasional terhadap aturan hukum.
Pemimpin Agama Tegaskan Nilai Kemanusiaan
Tokoh agama di Sri Lanka menegaskan peran mereka bukan hanya spiritual, tetapi juga menjaga nilai kemanusiaan universal. Mereka menyerukan penolakan terhadap semua bentuk kekerasan terhadap negara lain.
Para pastor menekankan perdamaian, saling menghormati, dan dialog sebagai solusi konflik yang efektif. Oleh karena itu, mereka menolak pendekatan yang hanya memperluas penderitaan umat manusia.
Solidaritas Asia untuk Rakyat Venezuela
Protes di seluruh Asia menunjukkan bahwa dukungan terhadap rakyat Venezuela melampaui batas negara. Aksi solidaritas mencakup Asia Selatan, Tenggara, dan Timur. Massa demonstran menunjukkan bahwa masyarakat dan tokoh agama bisa bersatu menolak agresi militer.
Selain itu, mereka menyerukan agar negara besar menghormati kedaulatan negara kecil. Gelombang protes ini memperluas jaringan solidaritas internasional. Dengan demikian, kesadaran publik global terhadap pentingnya menghormati hak asasi manusia dan kedaulatan negara meningkat.
Situasi Venezuela dan Dampaknya
Agresi militer AS ke Venezuela pada awal Januari 2026 memicu kecaman luas dari pemerintah Venezuela dan negara lain. Pemerintah Venezuela menolak keras serangan tersebut dan menyebutnya pelanggaran hukum internasional.
Selain itu, sejumlah negara, termasuk Singapura, menyatakan kekhawatiran serius. Mereka menilai tindakan ini bisa menjadi preseden berbahaya bagi negara kecil lain di dunia. Oleh karena itu, mereka menyerukan penyelesaian konflik melalui dialog dan menegakkan prinsip Piagam PBB.
Kesimpulan: Solidaritas, Diplomasi, dan Hukum Internasional
Aksi protes pastor dan pendeta di Sri Lanka serta solidaritas massa di seluruh Asia menolak agresi militer AS terhadap Venezuela. Mereka menekankan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan dialog.
Dengan demikian, aksi ini menegaskan pentingnya hukum internasional, kedaulatan nasional, dan hak rakyat menentukan nasib sendiri. Suara kolektif dari kelompok agama, buruh, pelajar, dan masyarakat sipil menjadi tekanan moral terhadap negara agresor. Mereka menyerukan perdamaian, keterbukaan dialog, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.




