Gereja India Berduka, Pastor Xavier Dikenang sebagai Imam dan Jurnalis

renunganhariankatolik.web.id – Gereja Katolik India mengenang Pastor Xavier Vadakkekara OFMCap sebagai salah satu tokoh penting dalam dunia komunikasi, pendidikan, dan pelayanan Gereja.
Imam Kapusin tersebut meninggalkan jejak panjang melalui karya jurnalistik, pendidikan komunikasi, penerbitan, serta pendampingan terhadap generasi muda.
Pastor Xavier meninggal dunia pada usia 72 tahun setelah mengalami masalah pernapasan. Ia menjalani perawatan di Holy Family Hospital, New Delhi, sebelum mengembuskan napas terakhir.
Kabar wafatnya membawa duka bagi rekan imam, jurnalis, akademisi, mantan mahasiswa, dan berbagai komunitas yang pernah bekerja bersamanya.
Banyak orang mengenangnya bukan hanya sebagai imam.
Mereka juga melihat Pastor Xavier sebagai sosok yang berani menggunakan media untuk menyuarakan kebenaran, keadilan sosial, dan kepentingan kelompok yang sering tidak mendapat ruang.
Pastor Xavier Dedikasikan Hidup untuk Gereja dan Media
Pastor Xavier lahir pada 25 Januari 1953 di Neeloor, Kerala.
Keluarganya kemudian pindah ke Vadakkancherry, Palakkad.
Ia memilih jalan hidup religius dan bergabung dengan Ordo Saudara Dina Kapusin.
Gereja kemudian menahbiskannya sebagai imam pada 19 April 1980.
Sejak awal pelayanan, Pastor Xavier menunjukkan minat besar terhadap media dan komunikasi.
Ia bergabung dengan Assisi, majalah berbahasa Malayalam yang berbasis di Bharananganam, Kerala.
Pengalaman tersebut mempertemukan dirinya dengan dunia jurnalistik Gereja.
Ia memahami bahwa media tidak hanya menyampaikan informasi.
Media juga dapat membentuk cara umat melihat persoalan sosial dan kehidupan Gereja.
Pendidikan Komunikasi Jadi Bagian Penting Pelayanannya
Pastor Xavier tidak berhenti pada praktik jurnalistik.
Ia memperdalam ilmu komunikasi dan meraih gelar doktor di Filipina.
Setelah kembali ke India, ia mengajar komunikasi di Vijnananilayam, Janampet, Andhra Pradesh.
Peran sebagai dosen membuatnya semakin dekat dengan mahasiswa serta calon komunikator Gereja.
Ia ingin generasi muda tidak hanya menguasai keterampilan teknis.
Menurut semangat pelayanannya, jurnalis juga membutuhkan tanggung jawab moral.
Seorang komunikator perlu mencari fakta, menjaga keadilan, serta memberikan ruang kepada orang yang jarang mendapat kesempatan berbicara.
Prinsip tersebut kemudian menjadi ciri kuat perjalanan jurnalistik Pastor Xavier.
Bangun Media House di India Utara
Pada 1993, Pastor Xavier pindah ke wilayah India utara.
Ia kemudian mendirikan Media House di Suryanagar, Uttar Pradesh, dekat New Delhi.
Media House berkembang sebagai salah satu pusat penerbitan dan komunikasi Katolik.
Melalui lembaga tersebut, Pastor Xavier mencoba memperkuat kehadiran Gereja dalam dunia media.
Ia memahami perubahan masyarakat yang semakin bergantung pada informasi.
Karena itu, Gereja membutuhkan komunikator yang memahami teknologi, jurnalisme, serta persoalan sosial.
Pastor Xavier juga ikut mengembangkan berbagai program pendidikan.
Ia membantu menghadirkan lembaga pelatihan yang memberi kesempatan kepada masyarakat mempelajari keterampilan baru.
Indian Currents Jadi Bagian Besar dari Warisannya
Nama Pastor Xavier memiliki hubungan kuat dengan mingguan Katolik Indian Currents.
Ia mengambil peran sebagai editor ketika media tersebut menghadapi masa sulit pada akhir 1990-an.
Pastor Xavier bersama tim kemudian memberi energi baru kepada publikasi tersebut.
Indian Currents mulai semakin aktif membahas persoalan masyarakat, politik, keadilan sosial, dan kehidupan Gereja.
Media tersebut tidak hanya menghadirkan berita internal Katolik.
Tim redaksi juga mengangkat isu yang menyentuh kelompok minoritas, masyarakat miskin, hak asasi manusia, dan kebebasan beragama.
Pastor Xavier memimpin Indian Currents hingga 2006.
Periode tersebut membuat namanya mendapat tempat penting dalam sejarah media Katolik India.
Berani Mengangkat Isu Sensitif
Pastor Xavier dikenal tidak takut mengangkat persoalan sulit.
Ia percaya media Katolik tetap perlu menjaga keberanian ketika menghadapi ketidakadilan.
Dalam perjalanan editorialnya, Indian Currents membahas isu sosial dan politik secara kritis.
Media itu juga tidak menghindari persoalan internal Gereja.
Pastor Xavier melihat kritik yang bertanggung jawab sebagai bagian dari proses membangun komunitas yang lebih baik.
Sikap tersebut membuat banyak rekan jurnalis menghormatinya.
Mereka melihat dirinya sebagai editor yang memegang prinsip sekaligus memberikan kesempatan kepada banyak penulis muda.
Ia juga mendorong wartawan agar tidak hanya mengejar berita populer.
Mereka perlu mendengar suara masyarakat kecil.
Pastor Xavier Jadi Mentor Banyak Jurnalis
Salah satu warisan terbesar Pastor Xavier hadir melalui orang-orang yang pernah belajar bersamanya.
Ia membimbing banyak jurnalis, mahasiswa, penulis, dan pekerja media.
Pendekatan tersebut menjadikan perannya lebih luas daripada sekadar editor.
Ia juga menjadi mentor.
Pastor Xavier mendorong generasi muda untuk menggunakan media secara bertanggung jawab.
Ia menekankan pentingnya akurasi, keadilan, keberanian, dan rasa hormat terhadap martabat manusia.
Nilai tersebut tetap relevan ketika media digital tumbuh sangat cepat.
Arus informasi kini bergerak dalam hitungan detik.
Namun, kecepatan tetap membutuhkan tanggung jawab.
Pendidikan Masyarakat Juga Jadi Perhatian
Pastor Xavier ikut mengembangkan berbagai lembaga pendidikan dan pelatihan.
Ia membantu mendirikan program pendidikan bagi masyarakat dewasa serta pelatihan keterampilan.
Ia juga berperan dalam pengembangan Media Institute of Training and Technology.
Lembaga tersebut memberikan pelatihan komputer ketika teknologi digital mulai berkembang lebih luas di India.
Pastor Xavier turut memainkan peran dalam pengembangan Assisi Institute of Training and Technology di Noida.
Institusi tersebut menawarkan pendidikan komunikasi dan jurnalistik.
Melalui berbagai inisiatif itu, Pastor Xavier menunjukkan bahwa pelayanan Gereja dapat berjalan melalui pendidikan.
Peduli Anak dari Keluarga Kurang Mampu
Perhatian Pastor Xavier tidak hanya tertuju pada media dan pendidikan formal.
Ia juga ikut menjalankan program yang membantu anak-anak dari keluarga miskin di kawasan Ghaziabad.
Program tersebut berfokus pada pendidikan dan pengembangan kehidupan anak.
Caritas India ikut mendukung langkah itu.
Bagi Pastor Xavier, pendidikan memberikan kesempatan kepada anak untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Pandangan tersebut memperlihatkan hubungan kuat antara komunikasi, pendidikan, dan keadilan sosial dalam seluruh pelayanannya.
Gereja India Mengenang Sosok yang Teguh
Bishop Henry D’Souza dari Bellary, yang menangani bidang komunikasi sosial dalam Konferensi Waligereja Katolik India, menyampaikan rasa kehilangan atas wafatnya Pastor Xavier.
Rekan-rekan Kapusin juga mengenangnya sebagai tokoh media yang visioner.
Mereka menilai Pastor Xavier memiliki kecerdasan, kepedulian terhadap manusia, dan keberanian untuk menyampaikan kebenaran.
Banyak orang juga mengenangnya sebagai pribadi yang mudah bergaul.
Ia mampu berdiskusi dengan akademisi, wartawan, imam, mahasiswa, serta masyarakat biasa.
Kemampuan tersebut membuat karya pelayanannya menjangkau banyak lapisan.
Hadapi Gangguan Penglihatan tanpa Meninggalkan Pelayanan
Pastor Xavier sempat menghadapi gangguan penglihatan.
Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan aktivitas intelektual dan pelayanannya.
Ia terus menulis, berdiskusi, membimbing, dan mendukung perkembangan media Gereja.
Keteguhan itu meninggalkan kesan mendalam bagi rekan-rekannya.
Mereka melihat seorang imam yang tidak membiarkan keterbatasan mengakhiri panggilannya.
Ia justru terus mencari cara untuk memberikan kontribusi.
Semangat tersebut menjadi bagian penting dari warisan hidupnya.
Tubuhnya Ia Persembahkan untuk Ilmu Pengetahuan
Pastor Xavier juga mengambil keputusan khusus terkait tubuhnya setelah wafat.
Ia meminta agar pihak terkait menyerahkan tubuhnya kepada All India Institute of Medical Sciences di New Delhi.
Keputusan tersebut mencerminkan komitmennya terhadap pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Bahkan setelah wafat, ia ingin tubuhnya membantu proses belajar dan penelitian medis.
Sikap itu memberikan gambaran kuat mengenai cara Pastor Xavier memandang pelayanan.
Ia melihat hidup sebagai kesempatan untuk memberi.
Jurnalisme Katolik Punya Peran Besar
Perjalanan Pastor Xavier juga mengingatkan Gereja mengenai pentingnya komunikasi.
Media tidak hanya berfungsi untuk mengumumkan kegiatan paroki atau acara Gereja.
Jurnalisme Katolik dapat ikut membahas persoalan kemanusiaan, keadilan, kemiskinan, perdamaian, dan martabat manusia.
Pastor Xavier menunjukkan pendekatan tersebut melalui Indian Currents dan berbagai lembaga pendidikan yang ia kembangkan.
Ia ingin media membantu masyarakat memahami realitas.
Namun, media juga perlu bekerja dengan integritas.
Prinsip tersebut semakin penting pada era media sosial.
Informasi palsu dan manipulasi dapat menyebar dengan sangat cepat.
Warisan Pastor Xavier Tetap Hidup
Wafatnya Pastor Xavier membawa duka bagi Gereja Katolik India.
Namun, perjalanan hidupnya meninggalkan warisan yang jauh lebih panjang.
Ia melayani sebagai imam.
Ia bekerja sebagai jurnalis.
Ia mengajar sebagai pendidik.
Ia membimbing generasi muda dan membangun lembaga komunikasi.
Pastor Xavier juga menggunakan media untuk membela kelompok yang membutuhkan suara.
Karyanya menunjukkan bahwa pelayanan Gereja dapat hadir melalui banyak jalan.
Altar menjadi salah satu tempat pelayanan.
Ruang kelas, meja redaksi, percetakan, dan pusat pelatihan juga dapat menjadi tempat yang sama pentingnya.
Bagi Gereja India, Pastor Xavier Vadakkekara meninggalkan contoh tentang bagaimana iman, pendidikan, dan komunikasi dapat berjalan bersama.
Generasi baru kini memegang tanggung jawab untuk melanjutkan semangat tersebut.
Mereka dapat mencari kebenaran, membela martabat manusia, dan menggunakan media untuk membangun masyarakat yang lebih adil.
Dengan cara itu, karya seorang imam, jurnalis, dan pendidik tetap hidup meski perjalanan hidupnya sudah selesai.




