Kardinal Parolin di PBB Dorong Solusi Dua Negara dan Aturan AI

renunganhariankatolik.web.id – Kardinal Pietro Parolin membawa pesan Vatikan ke Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB di New York. Sekretaris Negara Vatikan itu berbicara dalam debat umum Sidang Umum PBB ke-81 pada Sabtu, 26 September 2026.
Parolin menyampaikan sejumlah isu global. Ia membahas perang, perdamaian, hak asasi manusia, perkembangan teknologi, dan masa depan multilateralisme.
Dua isu mendapat perhatian khusus. Parolin kembali menyampaikan dukungan Takhta Suci terhadap solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina. Ia juga meminta masyarakat internasional membangun aturan yang jelas untuk perkembangan kecerdasan buatan atau AI.
Menurut Parolin, kedua isu tersebut membutuhkan kerja sama internasional. Ia juga menekankan pentingnya martabat manusia dalam setiap keputusan.
Vatikan Dukung Solusi Dua Negara
Parolin menegaskan posisi Takhta Suci mengenai konflik Israel-Palestina. Ia menyebut solusi dua negara sebagai jalan yang Vatikan dukung untuk mencapai perdamaian yang adil dan berkelanjutan.
Menurut Parolin, solusi tersebut perlu menggunakan perbatasan yang aman dan mendapat pengakuan internasional.
Ia juga menyoroti kondisi kemanusiaan di Gaza. Parolin menyampaikan kekhawatiran mengenai kehancuran, perpindahan penduduk, dan kekurangan kebutuhan dasar.
Karena itu, ia meminta masyarakat internasional mendorong langkah diplomatik yang dapat membuka jalan menuju perdamaian.
Parolin juga menyinggung situasi warga Palestina di Tepi Barat. Ia menyoroti kekerasan, penghancuran rumah, serta pembatasan pergerakan.
Menurutnya, berbagai persoalan tersebut membutuhkan perhatian serius dari komunitas internasional.
Parolin Minta Konflik Berakhir lewat Diplomasi
Selain isu Palestina, Parolin membahas sejumlah konflik lain. Ia menyerukan penghentian perang dan mendorong pihak yang bertikai membuka ruang negosiasi.
Ia menilai diplomasi harus kembali menjadi alat utama untuk menyelesaikan konflik.
Dalam pidatonya, Parolin mengutip pandangan Paus Leo XIV tentang pentingnya mengubah budaya kekuasaan menjadi budaya negosiasi.
Karena itu, Vatikan meminta negara-negara mengutamakan dialog. Parolin juga mengingatkan bahwa kekuatan militer tidak otomatis menciptakan perdamaian.
Menurutnya, perdamaian membutuhkan kepercayaan, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Vatikan Soroti Perkembangan AI
Parolin kemudian mengalihkan perhatian kepada perkembangan kecerdasan buatan.
Ia melihat AI sebagai salah satu tantangan besar bagi masyarakat modern. Teknologi tersebut dapat membantu manusia, tetapi juga dapat menimbulkan risiko jika manusia menggunakannya tanpa pengawasan yang memadai.
Karena itu, Vatikan meminta negara-negara membangun kerangka internasional untuk mengatur AI.
Parolin menekankan bahwa teknologi harus melayani manusia. Manusia tidak boleh kehilangan kendali atas keputusan penting akibat perkembangan teknologi.
Selain itu, ia meminta negara menjaga tanggung jawab manusia ketika menggunakan AI.
Kendali Manusia Tetap Penting
Parolin memberikan perhatian khusus pada sistem senjata otonom atau lethal autonomous weapons systems.
Menurutnya, keputusan untuk menggunakan kekuatan mematikan tidak boleh bergantung pada proses otomatis yang tidak transparan.
Manusia harus tetap mengambil keputusan tersebut. Pihak yang merancang, melatih, mengizinkan, dan menggunakan teknologi juga harus mempertanggungjawabkan keputusan mereka.
Parolin menilai dunia membutuhkan mekanisme yang memungkinkan masyarakat menelusuri proses pengambilan keputusan.
Dengan begitu, manusia tidak dapat melempar tanggung jawab kepada mesin ketika sebuah sistem AI melakukan kesalahan.
AI Tidak Boleh Mengabaikan Warga Sipil
Vatikan juga meminta negara memperhatikan dampak AI terhadap warga sipil.
Teknologi perang dapat mempercepat proses pengambilan keputusan. Namun, kecepatan tidak boleh mengalahkan pertimbangan moral.
Parolin meminta negara memastikan sistem AI dapat membedakan kombatan dan warga sipil.
Ia juga menekankan pentingnya perlindungan terhadap infrastruktur yang menopang kehidupan masyarakat.
Karena itu, pengembangan teknologi militer membutuhkan aturan internasional yang kuat.
Parolin Minta Dunia Cegah Perlombaan Senjata AI
Selain mengatur penggunaan AI, Vatikan juga mendorong negara mencegah perlombaan teknologi senjata.
Parolin menilai negara perlu membangun kerangka bersama untuk mengendalikan risiko tersebut.
Kerja sama internasional dapat membantu negara menyusun standar yang lebih jelas.
Pada saat yang sama, negara perlu menjaga transparansi dan tanggung jawab dalam pengembangan teknologi.
Dengan pendekatan itu, masyarakat internasional dapat memanfaatkan teknologi tanpa mengorbankan keselamatan manusia.
Martabat Manusia Jadi Dasar Kebijakan
Dalam pidatonya, Parolin terus kembali pada satu prinsip utama, yaitu martabat manusia.
Ia menyampaikan bahwa negara tidak memberikan martabat kepada manusia. Setiap manusia sudah memiliki martabat yang melekat.
Prinsip tersebut kemudian menjadi dasar pandangan Vatikan terhadap perang, teknologi, ekonomi, migrasi, dan hak asasi manusia.
Menurut Parolin, perkembangan teknologi tidak boleh mengubah manusia menjadi sekadar data atau alat produksi.
Karena itu, kebijakan AI perlu menempatkan manusia sebagai pusat.
Vatikan Dorong Reformasi PBB
Parolin juga membahas masa depan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Ia mendukung upaya reformasi PBB agar organisasi tersebut dapat menghadapi tantangan global dengan lebih efektif.
Menurutnya, dunia membutuhkan lembaga multilateral yang mampu memperkuat kepercayaan antarnegara.
Parolin menilai negara juga perlu mengutamakan kepentingan bersama. Ia mengingatkan bahwa tidak ada satu negara pun yang mampu menghadapi semua persoalan global sendirian.
Masalah seperti perang, migrasi, ketahanan pangan, perubahan teknologi, dan perubahan iklim membutuhkan kerja sama.
Paus Leo XIV Sampaikan Pesan melalui Parolin
Parolin juga membawa salam Paus Leo XIV kepada para pemimpin dunia.
Pesan tersebut menekankan tiga prinsip utama dalam diplomasi, yaitu perdamaian, keadilan, dan kebenaran.
Ketiga prinsip itu menjadi dasar pendekatan Vatikan dalam menghadapi persoalan internasional.
Dalam konteks konflik, Vatikan mendorong dialog. Dalam konteks teknologi, Vatikan meminta tanggung jawab. Sementara itu, dalam konteks hak asasi manusia, Vatikan menempatkan martabat manusia sebagai dasar.
Dengan demikian, pidato Parolin di PBB menggabungkan isu geopolitik dan teknologi dalam satu kerangka.
Vatikan Dorong Kerja Sama Internasional
Pidato Parolin menunjukkan perhatian Vatikan terhadap perubahan dunia.
Solusi dua negara menjadi bagian dari pesan Vatikan mengenai konflik Israel-Palestina. Sementara itu, aturan AI menjadi bagian dari perhatian terhadap perubahan teknologi.
Kedua isu tersebut membutuhkan kerja sama antarnegara.
Parolin meminta negara membuka ruang dialog dan membangun kepercayaan. Ia juga mengajak komunitas internasional menjaga manusia sebagai pusat setiap kebijakan.
Bagi Vatikan, kemajuan teknologi dan perdamaian global harus berjalan bersama.
Karena itu, Parolin menutup pesannya dengan seruan agar negara-negara membangun kembali kepercayaan, mengelola perubahan secara adil, dan memperkuat kerja sama internasional.




