Paus Leo XIV Peringati 25 Tahun 11 September, Doakan Korban dan Mereka yang Terluka

renunganhariankatolik.web.id – Paus Leo XIV mengenang tragedi 11 September 2001 saat memimpin doa Angelus di Lapangan Santo Petrus, Vatikan. Paus asal Amerika Serikat itu mengajak umat mendoakan para korban serta orang-orang yang masih merasakan luka akibat tragedi tersebut.
Paus Leo menyampaikan pesan itu pada Minggu, 13 September 2026. Pernyataan tersebut muncul dua hari setelah Amerika Serikat memperingati 25 tahun serangan 11 September.
Leo XIV juga mengajak umat memperbarui komitmen terhadap perdamaian. Ia menyampaikan seruan tersebut di tengah berbagai konflik dan kekerasan yang masih terjadi di banyak wilayah dunia.
Paus Leo Kenang Tragedi 11 September
Paus Leo menyebut peringatan 11 September sebagai momen penting bagi dunia. Ia mengajak umat melihat kembali penderitaan yang muncul setelah serangan teror pada 2001.
Dalam pesannya, Leo kembali mendoakan orang-orang yang kehilangan nyawa. Ia juga memberi perhatian kepada mereka yang masih membawa luka akibat tragedi tersebut.
Pesan itu mencakup korban langsung dan orang-orang yang terus merasakan dampak peristiwa tersebut. Banyak keluarga kehilangan orang terkasih pada hari itu.
Selain itu, banyak penyintas dan pekerja tanggap darurat menghadapi dampak kesehatan dalam jangka panjang. Karena itu, peringatan 25 tahun tidak hanya mengingat korban yang meninggal.
Paus juga mengarahkan perhatian kepada orang-orang yang masih menjalani kehidupan dengan luka fisik maupun batin.
Leo XIV Ajak Dunia Berdoa untuk Perdamaian
Setelah mengenang tragedi tersebut, Paus Leo mengarahkan pesannya pada perdamaian. Ia meminta umat berdoa agar Tuhan memberikan kedamaian kepada dunia.
Leo melihat hubungan antara ingatan atas tragedi masa lalu dan kondisi dunia saat ini. Konflik serta kekerasan masih memengaruhi kehidupan banyak orang.
Karena itu, Paus meminta umat tidak berhenti pada kegiatan mengenang. Ia ingin masyarakat memperbarui komitmen untuk membangun perdamaian.
Doa menjadi salah satu cara yang Leo tekankan. Ia juga mengajak umat menyerahkan upaya tersebut melalui perantaraan Bunda Maria.
Pesan itu menunjukkan perhatian Leo terhadap persoalan kemanusiaan. Ia ingin kenangan atas tragedi 11 September mendorong tindakan yang lebih kuat untuk menjaga perdamaian.
Paus Leo Soroti Luka yang Masih Bertahan
Tragedi 11 September sudah berlangsung selama 25 tahun. Namun, dampaknya masih terasa hingga sekarang.
Leo menyoroti orang-orang yang terus membawa luka dari peristiwa tersebut. Mereka menghadapi dampak emosional dan fisik dalam perjalanan hidup setelah serangan.
Pernyataan itu juga memperluas makna peringatan 11 September. Dunia tidak hanya mengenang mereka yang meninggal.
Masyarakat juga perlu memberi perhatian kepada penyintas, keluarga korban, serta orang-orang yang mengalami dampak kesehatan setelah peristiwa tersebut.
Dengan pendekatan itu, Paus mengajak umat melihat sisi kemanusiaan dari sebuah tragedi. Kenangan tidak berhenti pada angka korban atau catatan sejarah.
25 Tahun Tragedi 11 September
Amerika Serikat memperingati 25 tahun serangan 11 September pada 11 September 2026. Berbagai kegiatan berlangsung di New York, Pentagon, dan Pennsylvania.
Keluarga korban kembali mengenang orang-orang yang meninggal. Mereka juga membacakan nama para korban dalam rangkaian upacara peringatan.
Serangan tersebut menewaskan hampir 3.000 orang pada 2001. Para pelaku membajak pesawat komersial lalu menabrakkannya ke World Trade Center, Pentagon, serta sebuah lokasi di Pennsylvania.
Peristiwa tersebut mengubah kehidupan Amerika Serikat dan turut memengaruhi hubungan internasional. Dunia kemudian menghadapi perubahan besar dalam kebijakan keamanan serta perang melawan terorisme.
Kini, seperempat abad setelah tragedi itu, masyarakat kembali mengenang peristiwa tersebut.
Leo XIV Memiliki Pengalaman Pribadi dengan Tragedi 9/11
Peringatan Leo XIV memiliki konteks khusus karena ia berasal dari Amerika Serikat. Sebelum menjadi paus, ia menjalani kehidupan sebagai Robert Prevost di Amerika.
Pada 11 September 2001, Prevost berada di Roma untuk menghadiri pertemuan besar Ordo Agustinus. Beberapa hari kemudian, ia mendapat tanggung jawab sebagai pemimpin umum ordo tersebut.
Vatican News juga kembali mengangkat homili yang ia sampaikan tidak lama setelah serangan 11 September. Dalam homili tersebut, Prevost mengaitkan kekerasan dengan persoalan kemiskinan dan ketidakadilan.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa Leo sudah memikirkan akar kekerasan sejak masa awal pelayanannya sebagai pemimpin ordo.
Kini, sebagai paus pertama yang lahir di Amerika Serikat, Leo kembali menyampaikan pesan perdamaian pada peringatan 25 tahun tragedi tersebut.
Kenangan 11 September Dorong Komitmen Baru
Paus Leo tidak ingin masyarakat hanya mengingat tragedi tanpa mengambil pelajaran. Ia menghubungkan kenangan tersebut dengan kebutuhan untuk memperkuat perdamaian.
Menurut pesan Leo, dunia masih menghadapi konflik dan kekerasan. Karena itu, masyarakat perlu memperbarui komitmen untuk menjaga kehidupan manusia.
Peringatan 11 September kemudian memiliki makna yang lebih luas. Peristiwa tersebut menjadi pengingat tentang bahaya kebencian dan kekerasan.
Selain itu, tragedi tersebut menunjukkan besarnya dampak konflik terhadap keluarga dan masyarakat. Luka dapat bertahan jauh lebih lama daripada peristiwa yang memicunya.
Karena itu, perdamaian membutuhkan usaha yang berkelanjutan.
Doa Menjadi Pesan Utama Paus
Leo XIV menempatkan doa sebagai bagian penting dari pesannya. Ia mengajak umat mendoakan para korban dan mereka yang masih merasakan dampak tragedi.
Pada saat yang sama, ia meminta umat mendoakan perdamaian dunia. Leo melihat doa sebagai langkah untuk memperkuat komitmen terhadap kehidupan dan rekonsiliasi.
Pesan tersebut juga menunjukkan sikap Gereja Katolik terhadap kekerasan. Gereja terus mengajak masyarakat menolak kebencian dan mencari jalan damai.
Dengan demikian, peringatan 25 tahun 11 September tidak hanya menjadi agenda mengenang masa lalu. Momen itu juga membuka ruang untuk melihat masa depan.
Paus Leo Ajak Dunia Menjaga Perdamaian
Paus Leo XIV menutup pesannya dengan seruan agar masyarakat memperbarui komitmen terhadap perdamaian. Ia ingin kenangan atas tragedi 11 September mendorong dunia mengambil langkah nyata.
Tragedi 2001 meninggalkan luka bagi banyak keluarga. Luka tersebut juga terus memengaruhi orang-orang yang selamat dan mereka yang mengalami dampak kesehatan.
Karena itu, masyarakat perlu menjaga ingatan sekaligus membangun harapan. Perdamaian membutuhkan komitmen dari banyak pihak.
Paus Leo memilih doa sebagai bagian utama dari seruan tersebut. Ia berharap masyarakat dapat menjadikan pengalaman pahit masa lalu sebagai dorongan untuk menghentikan kekerasan.
Dengan semangat itu, peringatan 25 tahun 11 September menjadi kesempatan untuk mengenang korban sekaligus memperkuat harapan terhadap dunia yang lebih damai.




