Gereja Katolik Sri Lanka Sambut Putusan Serangan Paskah, Keluarga Korban Minta Keadilan Berlanjut

renunganhariankatolik.web.id – Gereja Katolik Sri Lanka menyambut putusan pengadilan terhadap 15 orang yang terlibat dalam serangan bom Minggu Paskah 2019. Putusan tersebut memberi secercah keadilan bagi keluarga yang menunggu selama lebih dari tujuh tahun.
Pengadilan Tinggi Colombo menjatuhkan hukuman penjara panjang kepada 15 terdakwa pada 22 September 2026. Sebanyak 14 terdakwa terbukti melakukan seluruh dakwaan. Satu terdakwa terbukti melakukan sebagian dakwaan.
Pengadilan juga membebaskan sembilan terdakwa lain. Selain itu, pengadilan memerintahkan negara mengambil seluruh aset dan properti milik 15 terpidana.
Gereja Katolik menyambut keputusan tersebut. Namun, gereja meminta aparat terus mencari pihak lain yang mungkin memiliki peran dalam rangkaian serangan tersebut.
Gereja Sambut Putusan Setelah Penantian Panjang
Pastor Jude Krishantha Fernando, Direktur Komunikasi dan Media Keuskupan Agung Kolombo, menyampaikan apresiasi terhadap putusan pengadilan.
Menurutnya, keluarga korban sudah menunggu keadilan selama bertahun-tahun. Karena itu, putusan tersebut memberi rasa lega bagi banyak keluarga.
Gereja juga melihat keputusan pengadilan sebagai langkah menuju kebenaran. Meski begitu, proses tersebut belum menjawab seluruh pertanyaan mengenai serangan Paskah.
Pastor Fernando menilai aparat masih perlu mencari pihak yang mungkin membantu atau merancang rangkaian serangan. Gereja ingin penyelidikan menjangkau seluruh pihak yang memiliki hubungan dengan tragedi tersebut.
Pengadilan Hukum 15 Terdakwa
Pengadilan menangani perkara ini selama hampir lima tahun. Jaksa mengajukan lebih dari 23.000 dakwaan terhadap para terdakwa.
Majelis hakim kemudian menyatakan 15 orang bersalah. Dakwaan mencakup pembunuhan, konspirasi untuk melakukan aksi teror, serta kepemilikan senjata api dan bahan peledak.
Lima terdakwa mendapat hukuman 200 tahun. Lima lainnya mendapat 220 tahun. Empat terdakwa mendapat 240 tahun.
Sementara itu, satu terdakwa mendapat hukuman 260 tahun penjara. Pengadilan juga memerintahkan penyitaan aset milik seluruh terpidana.
Sembilan terdakwa lain mendapat putusan bebas. Jaksa Agung kemudian menyatakan pihaknya tidak akan mengajukan banding terhadap keputusan bebas tersebut.
Keluarga Korban Sambut Putusan dengan Perasaan Campur Aduk
Keluarga korban menyambut putusan tersebut setelah menunggu proses hukum selama bertahun-tahun. Mereka melihat keputusan pengadilan sebagai langkah penting dalam perjuangan mencari keadilan.
Namun, sebagian keluarga masih memiliki pertanyaan mengenai siapa saja yang mengetahui rencana serangan sebelum tragedi terjadi.
Salah satu keluarga korban bahkan terus meminta aparat mencari kemungkinan adanya konspirasi yang lebih luas. Mereka ingin mengetahui seluruh rangkaian peristiwa sebelum bom meledak.
Pertanyaan tersebut muncul karena sejumlah laporan sebelumnya menunjukkan aparat keamanan sudah menerima informasi mengenai ancaman serangan. Namun, aparat tidak berhasil mencegah tragedi tersebut.
Karena itu, keluarga korban meminta proses hukum tidak berhenti pada 15 terpidana.
Serangan Paskah Menewaskan Ratusan Orang
Serangan Minggu Paskah terjadi pada 21 April 2019. Para pelaku menyerang tiga gereja dan tiga hotel dalam rangkaian ledakan yang hampir bersamaan.
Gereja St. Sebastian di Negombo menjadi salah satu lokasi serangan. Gereja St. Anthony di Kolombo dan Zion Church di Batticaloa juga menjadi sasaran.
Selain tempat ibadah, para pelaku menyerang sejumlah hotel di Kolombo. Ledakan tersebut menewaskan 279 orang dan melukai lebih dari 500 orang.
Sebanyak 45 warga negara asing juga masuk dalam daftar korban. Tragedi itu kemudian menjadi salah satu serangan terburuk dalam sejarah modern Sri Lanka.
Sembilan pelaku bom bunuh diri meninggal dalam serangan tersebut. Aparat kemudian mengejar orang-orang yang mereka duga membantu merencanakan atau mendukung aksi tersebut.
Gereja Minta Penyelidikan Terus Berjalan
Gereja Katolik tidak menganggap putusan terbaru sebagai akhir dari seluruh proses pencarian kebenaran, bahkan Gereja justru meminta aparat memperluas penyelidikan.
Pastor Fernando mengatakan proses hukum perlu menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan pihak lain yang membantu serangan. Gereja ingin masyarakat mengetahui seluruh fakta yang berkaitan dengan tragedi tersebut.
Langkah itu juga penting bagi keluarga korban. Mereka tidak hanya membutuhkan putusan pengadilan.
Mereka juga ingin mengetahui alasan aparat gagal mencegah serangan. Informasi tersebut dapat membantu negara memperbaiki sistem keamanan dan mencegah tragedi serupa.
Kasus Kelalaian Aparat Juga Masuk Pengadilan
Perkara terhadap 15 terdakwa bukan satu-satunya proses hukum yang berkaitan dengan serangan Paskah.
Pada Juli 2026, pengadilan menjatuhkan hukuman mati kepada mantan Kepala Polisi Pujith Jayasundara dan mantan pejabat senior Kementerian Pertahanan Hemasiri Fernando.
Pengadilan menyatakan keduanya gagal mengambil tindakan setelah aparat menerima informasi intelijen mengenai kemungkinan serangan.
Sri Lanka belum menjalankan eksekusi sejak 1976. Karena itu, hukuman mati biasanya menghadapi proses hukum lanjutan atau perubahan menjadi hukuman lain.
Sementara itu, Mahkamah Agung Sri Lanka pada 2023 meminta sejumlah pejabat senior membayar kompensasi kepada keluarga korban. Putusan tersebut juga memperkuat pembahasan mengenai tanggung jawab pemerintah sebelum serangan terjadi.
Keluarga Korban Masih Menunggu Jawaban
Putusan terbaru memberi ruang bagi keluarga korban untuk melihat perkembangan hukum secara lebih jelas. Namun, sejumlah keluarga masih mencari jawaban mengenai keseluruhan rangkaian serangan.
Mereka ingin aparat menjelaskan bagaimana para pelaku dapat merencanakan serangan dalam skala besar. Mereka juga ingin mengetahui siapa saja yang mengetahui rencana tersebut sebelum 21 April 2019.
Karena itu, proses pencarian kebenaran masih memiliki peran penting. Keadilan bagi korban tidak hanya berkaitan dengan hukuman terhadap pelaku.
Keluarga juga membutuhkan informasi yang lengkap. Mereka ingin pemerintah menjelaskan setiap celah keamanan yang memungkinkan tragedi tersebut terjadi.
Gereja Tekankan Kebenaran dan Keadilan
Gereja Katolik Sri Lanka melihat putusan terbaru sebagai langkah maju. Namun, gereja tetap meminta aparat menjaga komitmen terhadap kebenaran dan keadilan.
Masyarakat juga memiliki kepentingan untuk mengetahui seluruh fakta. Informasi yang lengkap dapat membantu Sri Lanka memperbaiki sistem keamanan dan melindungi warga.
Selain itu, keluarga korban membutuhkan pendampingan dalam jangka panjang. Luka akibat tragedi tersebut tidak hilang hanya karena pengadilan menjatuhkan hukuman.
Dengan demikian, putusan terhadap 15 terdakwa membuka babak baru dalam pencarian keadilan. Gereja dan keluarga korban kini berharap aparat terus mengungkap seluruh rangkaian serangan Minggu Paskah 2019.
Bagi keluarga yang kehilangan orang tercinta, proses tersebut memiliki arti besar. Mereka ingin keadilan berjalan bersama kebenaran dan pertanggungjawaban.




