
renunganhariankatolik.web.id – Sengketa bendungan di India semakin memanas setelah masyarakat adat menolak proyek pembangkit listrik tenaga air berskala besar. Gereja melalui Arunachal Christian Forum (ACF) menawarkan bantuan untuk mempertemukan pemerintah dan masyarakat dalam dialog damai.
Konflik tersebut berpusat pada rencana pembangunan Siang Upper Multipurpose Project (SUMP) di Arunachal Pradesh, India timur laut. Proyek ini memiliki rencana kapasitas pembangkit listrik mencapai 11.200 megawatt.
Pemerintah India melihat proyek tersebut sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi dan keamanan nasional. Namun, masyarakat adat mengkhawatirkan dampaknya terhadap tanah leluhur, lingkungan, serta kehidupan mereka.
Ketegangan semakin meningkat setelah aksi demonstrasi memicu bentrokan antara aparat keamanan dan masyarakat setempat.
Melihat kondisi tersebut, Arunachal Christian Forum mengajak seluruh pihak mengutamakan dialog daripada konfrontasi.
Organisasi Gereja itu berharap pemerintah dan masyarakat dapat menemukan solusi yang menghormati kepentingan bersama.
Gereja India Menawarkan Diri sebagai Penengah Konflik Bendungan
Arunachal Christian Forum merupakan organisasi yang menghimpun berbagai komunitas Gereja di Arunachal Pradesh.
Organisasi tersebut mengirimkan surat kepada Ketua Menteri Arunachal Pradesh, Pema Khandu, pada 25 Oktober 2026.
Melalui surat itu, ACF menyampaikan kekhawatiran terhadap meningkatnya ketegangan antara pemerintah dan masyarakat adat.
Presiden ACF, James Techi Tara, meminta pemerintah membuka komunikasi dengan Siang Indigenous Farmers Forum (SIFF).
Kelompok tersebut mewakili masyarakat yang menolak rencana pembangunan bendungan raksasa di Sungai Siang.
ACF menawarkan bantuan untuk memfasilitasi perundingan awal antara kedua pihak.
Organisasi Gereja itu ingin menciptakan ruang komunikasi yang aman, terbuka, dan saling menghormati.
Selain itu, ACF menekankan pentingnya menjaga persatuan masyarakat selama proses penyelesaian konflik.
Forum tersebut percaya bahwa komunikasi dapat mengurangi kesalahpahaman dan membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Namun, ACF tidak mengambil sikap mendukung ataupun menolak proyek bendungan tersebut.
Organisasi itu hanya ingin membantu kedua pihak menemukan jalan penyelesaian melalui cara damai.
Proyek Bendungan Siang Memicu Penolakan Masyarakat Adat
Rencana pembangunan Siang Upper Multipurpose Project menimbulkan kekhawatiran besar bagi masyarakat adat di lembah Sungai Siang.
Proyek tersebut berpotensi mengubah kehidupan warga yang selama beberapa generasi menggantungkan hidup pada sungai dan lahan pertanian.
Masyarakat adat Adi menjadi salah satu kelompok yang paling mengkhawatirkan dampak pembangunan bendungan.
Mereka menilai proyek tersebut dapat menghilangkan tanah leluhur dan mengancam keberlangsungan permukiman tradisional.
Warga juga mengkhawatirkan risiko perubahan ekosistem sungai serta kemungkinan bencana akibat pembangunan infrastruktur berskala besar.
Bagi masyarakat adat, Sungai Siang mempunyai nilai yang melampaui kepentingan ekonomi.
Sungai tersebut menjadi bagian penting dari kebudayaan, sejarah keluarga, serta identitas masyarakat setempat.
Karena itu, masyarakat meminta pemerintah mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan secara menyeluruh.
Mereka juga menginginkan keterlibatan langsung dalam setiap proses pengambilan keputusan.
SIFF menegaskan bahwa masyarakat tidak menolak seluruh bentuk pembangunan.
Namun, mereka menolak proyek yang berpotensi mengancam hak dan masa depan komunitas adat.
Aksi Protes Bendungan di India Semakin Meluas
Ketegangan dalam sengketa bendungan di India meningkat sepanjang Oktober hingga awal November 2026.
Aksi demonstrasi pada 23 Oktober memicu bentrokan antara sebagian pengunjuk rasa dan aparat keamanan.
Sejumlah orang juga melakukan pembakaran serta perusakan fasilitas saat situasi semakin tidak terkendali.
Aparat kemudian menangkap sejumlah demonstran dan memperkuat pengamanan di beberapa wilayah.
Situasi tersebut memicu kemarahan organisasi masyarakat adat serta kelompok pemuda.
Pada 29 Oktober, sejumlah organisasi menggelar aksi solidaritas di Taman Indira Gandhi, Itanagar.
Para peserta aksi mendesak pemerintah membebaskan demonstran yang menjalani penahanan.
Mereka juga meminta pemerintah menghentikan sementara kegiatan survei proyek bendungan.
Memasuki 2 November 2026, aksi penolakan kembali meningkat.
SIFF bersama organisasi pemuda menggelar aksi penghentian aktivitas selama 36 jam.
Aksi tersebut memengaruhi aktivitas masyarakat di wilayah Siang, Upper Siang, dan East Siang.
Sejumlah sekolah, kantor, toko, serta layanan transportasi menghadapi gangguan akibat aksi protes.
Otoritas juga menghentikan sementara layanan internet seluler di Upper Siang ketika ketegangan meningkat.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik membutuhkan penyelesaian yang lebih serius.
Gereja Mendorong Dialog Tanpa Kekerasan
Arunachal Christian Forum menilai konflik bendungan tidak hanya menyangkut pembangunan infrastruktur.
Persoalan tersebut juga berkaitan dengan hak masyarakat adat, kehidupan pertanian, dan perlindungan lingkungan.
Karena itu, ACF meminta pemerintah mengutamakan pendekatan yang terbuka dan menghormati aspirasi masyarakat.
Organisasi tersebut percaya bahwa perundingan dapat membantu semua pihak memahami kepentingan masing-masing.
Gereja juga mengingatkan pentingnya menjaga martabat manusia dalam setiap kebijakan pembangunan.
Menurut ACF, pemerintah harus memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan keberatan tanpa tekanan.
Sebaliknya, seluruh kelompok masyarakat perlu menghindari tindakan kekerasan yang dapat memperburuk keadaan.
ACF berharap semangat saling menghormati mampu membuka jalan menuju perdamaian.
Melalui pendekatan tersebut, Gereja berupaya menjalankan tanggung jawab sosial untuk menjaga keharmonisan masyarakat.
Pemerintah India Memiliki Pertimbangan Strategis
Pemerintah India mempunyai alasan strategis dalam mendorong pembangunan bendungan raksasa di Sungai Siang.
Salah satu pertimbangan utama berkaitan dengan proyek pembangkit listrik tenaga air milik China di kawasan hulu sungai.
China mengembangkan proyek bendungan besar di Sungai Yarlung Tsangpo yang mengalir menuju wilayah India.
Ketika memasuki Arunachal Pradesh, sungai tersebut menggunakan nama Sungai Siang.
Selanjutnya, aliran Sungai Siang bergabung dengan sungai lain dan membentuk Sungai Brahmaputra di Assam.
Pemerintah India mengkhawatirkan dampak pengelolaan aliran air dari wilayah hulu terhadap kawasan hilir.
Karena itu, pemerintah memandang proyek SUMP sebagai bagian dari strategi pengelolaan sumber daya air.
Selain kepentingan keamanan, proyek tersebut juga menawarkan potensi produksi energi listrik dalam jumlah besar.
Namun, pemerintah menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan kepentingan nasional dengan perlindungan masyarakat lokal.
Pembangunan infrastruktur membutuhkan dukungan masyarakat agar pelaksanaannya tidak menimbulkan konflik berkepanjangan.
Masyarakat Adat Menuntut Transparansi Pemerintah
Siang Indigenous Farmers Forum terus menyuarakan keberatan terhadap proses persiapan proyek bendungan.
Pada 2 November 2026, juru bicara SIFF, Tagori Mize, kembali mempertanyakan transparansi pemerintah.
Mize menilai pemerintah belum memberikan penjelasan yang memadai kepada pemilik tanah dan masyarakat setempat.
Ia juga mempertanyakan proses konsultasi terkait survei awal proyek.
Menurut SIFF, kurangnya komunikasi telah menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Kelompok tersebut meminta pemerintah menjelaskan dampak positif dan negatif proyek secara terbuka.
Masyarakat ingin mengetahui kemungkinan perubahan permukiman, kehilangan lahan, serta dampak terhadap budaya setempat.
Mereka juga meminta pemerintah menghormati hak warga sebelum melanjutkan tahapan proyek.
Sementara itu, pihak pemerintah membantah sejumlah tuduhan terkait proses persetujuan masyarakat.
Pemerintah menegaskan bahwa survei pra-kelayakan merupakan tahap awal dan belum berarti pembangunan bendungan langsung berjalan.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan pentingnya komunikasi yang lebih efektif.
Organisasi Masyarakat Adat Ikut Mengupayakan Perdamaian
Selain Arunachal Christian Forum, organisasi masyarakat adat juga berusaha membantu menyelesaikan konflik.
Arunachal Indigenous Tribes Forum (AITF) menawarkan pembentukan komite perdamaian untuk mengatasi ketegangan.
Komite tersebut bertujuan mempertemukan berbagai pihak dan meninjau kondisi masyarakat.
AITF ingin mencari langkah yang dapat mengurangi konflik serta memulihkan hubungan sosial.
Organisasi tersebut juga menyampaikan kekhawatiran terhadap peningkatan jumlah aparat keamanan di wilayah konflik.
Mereka menganggap pendekatan dialog lebih efektif untuk menciptakan perdamaian jangka panjang.
Keterlibatan berbagai organisasi menunjukkan perhatian besar masyarakat terhadap masa depan Sungai Siang.
Namun, seluruh inisiatif tersebut tetap membutuhkan kerja sama pemerintah dan kelompok masyarakat.
Tanpa komunikasi yang terbuka, ketegangan berpotensi terus meningkat.
Gereja Menegaskan Pentingnya Perlindungan Hak Masyarakat
Tawaran mediasi ACF mencerminkan perhatian komunitas Gereja terhadap persoalan kemanusiaan dan keadilan sosial.
Gereja memandang pembangunan sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan manusia.
Namun, pembangunan juga perlu menghormati hak dasar serta kehidupan masyarakat lokal.
ACF menekankan bahwa seluruh pihak harus menjaga kepercayaan dan menghindari tindakan yang memperburuk konflik.
Organisasi tersebut juga berharap pemerintah memberikan kesempatan kepada kelompok masyarakat adat untuk menyampaikan pandangan.
Dalam konteks ini, dialog menjadi sarana penting untuk mempertemukan kepentingan pembangunan dan perlindungan manusia.
Pendekatan tersebut sejalan dengan nilai perdamaian, solidaritas, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Gereja tidak berupaya menggantikan kewenangan pemerintah dalam mengambil keputusan.
Sebaliknya, ACF ingin membantu menciptakan suasana yang mendukung perundingan secara demokratis.
Upaya Mediasi Masih Membutuhkan Kesepakatan Kedua Pihak
Meskipun Gereja telah menawarkan mediasi, proses perundingan tetap membutuhkan persetujuan pemerintah dan SIFF.
ACF meminta Ketua Menteri Pema Khandu menunjuk perwakilan pemerintah untuk memulai koordinasi.
Organisasi tersebut juga siap menjalin komunikasi dengan perwakilan masyarakat adat.
Jika kedua pihak menyetujui tawaran itu, ACF dapat membantu mengatur pertemuan awal.
Namun, hingga perkembangan terbaru pada 2 November 2026, belum ada kepastian mengenai pelaksanaan perundingan resmi melalui ACF.
Situasi ini membuat proses penyelesaian konflik masih menghadapi tantangan.
Pemerintah harus mempertimbangkan kepentingan energi dan keamanan nasional.
Sementara itu, masyarakat adat tetap menuntut perlindungan tanah, lingkungan, dan identitas budaya mereka.
Karena itu, semua pihak perlu membangun komunikasi yang jujur dan saling menghormati.
Gereja Berharap Dialog Damai Mengakhiri Sengketa Bendungan
Sengketa bendungan di India menjadi ujian bagi hubungan pemerintah dan masyarakat adat Arunachal Pradesh.
Rencana pembangunan proyek energi raksasa menghadirkan peluang ekonomi sekaligus kekhawatiran sosial.
Arunachal Christian Forum berharap kedua pihak mampu menyelesaikan perbedaan melalui perundingan.
Organisasi Gereja itu menilai perdamaian harus menjadi landasan sebelum pemerintah melangkah lebih jauh.
Keterbukaan informasi, penghormatan terhadap hak masyarakat, serta komunikasi menjadi kunci penyelesaian konflik.
Pemerintah perlu mendengarkan suara masyarakat yang khawatir terhadap masa depan wilayah mereka.
Di sisi lain, seluruh kelompok masyarakat perlu menjaga ketertiban dan menghindari kekerasan.
Tawaran mediasi Gereja membuka peluang untuk membangun kembali kepercayaan antara pemerintah dan warga.
Meski belum menghasilkan kesepakatan, langkah tersebut menunjukkan pentingnya peran lembaga keagamaan dalam menjaga perdamaian.
Kini, masyarakat menantikan respons pemerintah dan kelanjutan upaya dialog.
Harapannya, seluruh pihak dapat menemukan solusi yang menjaga kepentingan pembangunan tanpa mengabaikan hak masyarakat adat dan kelestarian Sungai Siang.




