Imam Katolik Pejuang Perdamaian Tewas Ditembak di Meksiko

renunganhariankatolik.web.id – Pastor Román de la Cruz Hernández meninggal setelah seseorang menembaknya di wilayah Lolotla, Hidalgo, Meksiko. Román melayani umat sebagai imam di Santa Cruz Parish, Huejutla.
Peristiwa itu terjadi pada 15 September 2026. Polisi menerima laporan mengenai seorang pria yang mengalami luka tembak di kawasan jalan Tolago-Tetlapaya.
Petugas kemudian mengenali korban sebagai Román. Ia mengalami beberapa luka akibat tembakan.
Kabar tersebut langsung mengguncang komunitas Katolik di wilayah Huejutla. Gereja setempat juga meminta masyarakat tidak membuat dugaan sendiri mengenai penyebab serangan.
Polisi Masih Cari Motif Pembunuhan
Aparat masih menjalankan penyelidikan untuk mengetahui alasan seseorang menyerang Román. Polisi belum mengumumkan tersangka dalam kasus tersebut.
Petugas juga menemukan sebuah mobil pikap Toyota Tacoma berwarna merah marun tidak jauh dari lokasi. Mobil itu memakai pelat nomor Baja California.
Selain itu, polisi menemukan sebuah karton yang memuat pesan bernada intimidasi. Aparat belum membuka isi pesan tersebut kepada publik.
Karena itu, penyidik masih mengumpulkan informasi sebelum menentukan arah perkara. Gereja juga meminta masyarakat menunggu hasil pemeriksaan aparat.
Gereja Meksiko Serukan Penyelidikan
Kematian Román membuat para pemimpin Gereja Katolik kembali menyerukan langkah serius menghadapi kekerasan.
Keuskupan Huejutla meminta aparat mengusut perkara secara menyeluruh. Gereja juga meminta pihak berwenang memastikan proses hukum berjalan dan pelaku bertanggung jawab.
Konferensi Waligereja Meksiko turut menyampaikan dukungan kepada Uskup José Hiraís Acosta Beltrán, para imam, umat, serta seluruh komunitas Keuskupan Huejutla.
Seruan tersebut muncul saat Meksiko menghadapi persoalan kekerasan yang terus mengganggu banyak wilayah. Karena itu, Gereja menilai aparat perlu memperkuat upaya perlindungan terhadap masyarakat.
Román Melayani Umat di Santa Cruz
Román lahir pada 28 Juli 1978 di Mazahuacán, wilayah Lolotla, Hidalgo. Ia menerima tahbisan imam pada 18 Desember 2006.
Sejak September 2024, Román memimpin komunitas Santa Cruz sebagai imam paroki pertama bagi komunitas tersebut.
Ia juga menjalankan tugas dalam Komisi Pastoral Profetik Keuskupan Huejutla. Tugas itu membuatnya terlibat dalam pelayanan keagamaan dan pendampingan umat.
Paroki Santa Cruz sendiri memiliki sekitar 1.500 warga. Román menjalankan pelayanan di tengah masyarakat yang menghadapi persoalan sosial dan keamanan.
Kematian Román Muncul Setelah Aksi Perdamaian
Kematian Román mendapat perhatian lebih besar karena terjadi dua hari setelah aksi perdamaian di Culiacán, Sinaloa.
Pada 13 September, Uskup Jesús José Herrera Quiñónez memimpin pawai perdamaian. Ia juga memimpin misa di depan katedral Culiacán.
Dalam kegiatan tersebut, Gereja menyerukan penghentian kekerasan. Uskup Herrera juga mengajak kelompok yang terlibat konflik untuk memilih kehidupan daripada kekerasan.
Pesan itu muncul di tengah konflik panjang antarkelompok kriminal di Sinaloa. Situasi tersebut terus memengaruhi kehidupan masyarakat setempat.
Dua hari kemudian, penembakan terhadap Román terjadi di Hidalgo. Jarak waktu yang singkat antara dua peristiwa tersebut kembali mengangkat perhatian terhadap kondisi keamanan para pelayan Gereja.
Gereja Terus Dampingi Korban Kekerasan
Para pemimpin Gereja Katolik di Meksiko selama beberapa tahun terakhir terus menyuarakan perhatian terhadap korban kekerasan.
Sejumlah komunitas Gereja juga membantu keluarga yang mencari anggota keluarga mereka yang hilang. Di beberapa wilayah, Gereja menyediakan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan informasi secara anonim.
Langkah tersebut menunjukkan peran Gereja yang tidak hanya berfokus pada kegiatan keagamaan. Para pemimpin Gereja juga berusaha mendampingi keluarga yang menghadapi kehilangan dan ketidakpastian.
Karena itu, kematian Román kembali memunculkan pertanyaan mengenai keamanan para imam yang melayani masyarakat di wilayah rawan.
Keuskupan Huejutla Hadapi Ancaman Keamanan
Wilayah Huejutla juga menghadapi persoalan keamanan yang cukup serius. Kelompok kriminal bersaing untuk menguasai aktivitas ilegal, termasuk perdagangan bahan bakar.
Pada Agustus 2026, Keuskupan Huejutla mengingatkan umat mengenai upaya penipuan yang menyasar beberapa imam.
Pelaku meretas telepon sejumlah imam lalu menyamar sebagai mereka. Setelah itu, pelaku mencoba meminta uang kepada umat.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa ancaman terhadap komunitas Gereja tidak hanya muncul melalui serangan fisik. Pelaku juga memanfaatkan teknologi untuk menipu masyarakat.
Gereja Minta Masyarakat Tidak Berspekulasi
Uskup José Hiraís Acosta Beltrán meminta umat menahan diri dari spekulasi mengenai kematian Román. Ia ingin aparat bekerja tanpa tekanan dari berbagai dugaan yang belum memiliki dasar.
Sikap tersebut penting karena penyidik masih mencari motif dan pihak yang bertanggung jawab.
Gereja juga meminta aparat memberikan informasi secara terbuka ketika penyelidikan menghasilkan perkembangan baru.
Sementara itu, umat Katolik di Keuskupan Huejutla terus mendoakan Román dan keluarganya. Komunitas Santa Cruz juga menghadapi masa duka setelah kehilangan imam yang melayani mereka.
Kematian Imam Kembali Soroti Kekerasan di Meksiko
Kasus Román menunjukkan risiko yang dapat menghadapi para imam ketika mereka melayani masyarakat di wilayah dengan tingkat kekerasan tinggi.
Gereja tetap menyerukan perdamaian meski sejumlah wilayah Meksiko menghadapi konflik kriminal. Para pemimpin Gereja juga terus meminta masyarakat menjaga harapan dan menolak kekerasan.
Kini, aparat masih mencari jawaban atas kematian Román. Penyelidikan perlu mengungkap siapa yang menyerang imam tersebut dan apa alasan di balik tindakannya.
Untuk sementara, komunitas Katolik di Hidalgo memilih mengenang Román melalui pelayanan, doa, dan seruan perdamaian. Mereka juga berharap aparat segera menemukan titik terang dalam kasus tersebut.



