Jiwa Sederhana seperti Anak Kecil, Belajar Rendah Hati dan Percaya kepada Tuhan

renunganhariankatolik.web.id – Setiap orang tentu ingin hidup dengan baik dan mencapai sesuatu yang membanggakan. Kita mengejar pekerjaan, membangun keluarga, mencari penghargaan, dan berusaha mencapai berbagai impian. Namun, semua pencapaian itu tidak selalu membuat hati merasa tenang.
Yesus mengajak kita melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Dalam Injil Matius 18:1-5, Yesus menempatkan seorang anak kecil di tengah para murid. Ia kemudian mengajarkan pentingnya pertobatan, kerendahan hati, dan kesederhanaan.
Pesan tersebut sangat dekat dengan kehidupan kita. Tuhan tidak meminta kita meninggalkan cita-cita. Tuhan mengajak kita menjalani semua cita-cita dengan hati yang sederhana.
Yesus Mengajarkan Arti Kebesaran yang Sejati
Para murid pernah bertanya kepada Yesus tentang siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Pertanyaan itu menunjukkan bahwa mereka masih memandang kebesaran melalui ukuran manusia.
Dunia sering menghubungkan kebesaran dengan jabatan, kekayaan, kekuasaan, popularitas, atau prestasi. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula penghargaan yang ia terima.
Yesus menghadirkan gambaran yang berbeda. Ia memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah para murid.
Melalui tindakan itu, Yesus mengajak para murid mengubah cara berpikir. Kebesaran di hadapan Tuhan tidak bergantung pada kedudukan manusia.
Kerendahan hati justru menjadi jalan menuju kebesaran sejati.
Menjadi seperti Anak Kecil Bukan Berarti Kekanak-kanakan
Ketika Yesus meminta manusia menjadi seperti anak kecil, Ia tidak mengajak kita meninggalkan kedewasaan.
Anak kecil memiliki beberapa sikap yang dapat kita teladani. Mereka mampu percaya kepada orang yang mereka kasihi. Mereka juga berani mengakui bahwa mereka membutuhkan pertolongan.
Sikap seperti itu mengingatkan kita agar tidak selalu mengandalkan kekuatan sendiri.
Kita sering merasa mampu menyelesaikan semua persoalan. Kita bahkan terkadang merasa tidak membutuhkan Tuhan ketika hidup berjalan sesuai keinginan.
Namun, keadaan dapat berubah dalam waktu singkat. Persoalan keluarga, pekerjaan, kesehatan, dan kehidupan sehari-hari dapat membuat kita sadar bahwa manusia memiliki keterbatasan.
Karena itu, kita perlu kembali memiliki hati yang sederhana.
Jiwa Sederhana Membuka Hati kepada Tuhan
Jiwa sederhana tidak berarti hidup tanpa tujuan. Sebaliknya, jiwa sederhana membuat seseorang mampu menjalani tujuan hidup tanpa kehilangan arah.
Orang yang memiliki hati sederhana tidak selalu mengejar pujian. Ia mampu melakukan kebaikan tanpa menunggu penghargaan.
Ia juga tidak mudah merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menerapkan sikap tersebut melalui hal-hal kecil.
Selain itu, kita dapat mengucapkan terima kasih dan meminta maaf dengan tulus.
Hal-hal sederhana seperti itu memiliki nilai besar ketika kita melakukannya dengan kasih.
Rendah Hati Bukan Berarti Merendahkan Diri
Kerendahan hati sering mendapat salah pengertian. Sebagian orang menganggap rendah hati berarti tidak boleh memiliki prestasi atau tidak boleh merasa bangga atas hasil kerja.
Padahal, kerendahan hati tidak menuntut seseorang menolak kemampuan yang Tuhan berikan.
Kerendahan hati membuat kita mampu mengenali kemampuan tanpa menjadikannya alasan untuk merendahkan orang lain.
Namun, kita perlu menjaga hati agar keberhasilan tidak membuat kita lupa kepada Tuhan dan sesama.
Tuhan Memperhatikan Mereka yang Kecil
Injil hari ini juga mengingatkan kita agar tidak meremehkan orang-orang kecil. Yesus menunjukkan perhatian besar kepada mereka yang sering mendapat perhatian lebih sedikit dari dunia.
Pesan tersebut mengajak kita melihat setiap manusia dengan kasih.
Kita tidak boleh menilai seseorang hanya berdasarkan pekerjaan, kekayaan, pendidikan, atau kedudukannya.
Setiap orang memiliki martabat di hadapan Tuhan.
Karena itu, kita perlu belajar menghargai orang lain. Kita dapat memulai dari lingkungan terdekat.
Hormati orang tua. Hargai pasangan. Dengarkan anak-anak. Perlakukan rekan kerja dengan baik. Berikan perhatian kepada mereka yang sedang menghadapi kesulitan.
Dengan cara itu, kita menghadirkan kasih Tuhan melalui tindakan sederhana.
Percaya kepada Tuhan seperti Anak kepada Orang Tuanya
Anak kecil biasanya memiliki rasa percaya yang kuat kepada orang yang merawatnya. Ketika merasa takut, ia mencari perlindungan. Ketika menghadapi kesulitan, ia mencari pertolongan.
Sikap itu dapat menjadi gambaran hubungan kita dengan Tuhan.
Kita tidak selalu memahami jalan hidup yang sedang kita jalani. Kadang-kadang doa kita belum menghasilkan jawaban seperti yang kita harapkan.
Dalam situasi seperti itu, iman mengajak kita tetap percaya.
Percaya kepada Tuhan bukan berarti kita berhenti berusaha. Kita tetap bekerja, berdoa, mengambil keputusan, dan menjalankan tanggung jawab.
Namun, kita menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.
Malaikat Pelindung Mengingatkan Kita pada Penyertaan Tuhan
Bacaan Injil hari ini juga berbicara tentang para malaikat yang menjaga anak-anak kecil. Pesan tersebut menghadirkan penghiburan bagi kita.
Tuhan tidak meninggalkan manusia sendirian dalam perjalanan hidup.
Perhatian Tuhan dapat hadir melalui banyak cara. Kita dapat merasakan kasih-Nya melalui keluarga, sahabat, komunitas, dan orang-orang yang datang membantu ketika kita membutuhkan pertolongan.
Karena itu, kita perlu membuka mata terhadap kebaikan yang hadir setiap hari.
Jangan sampai kesibukan membuat kita lupa bersyukur.
Belajar Menjalani Hal Kecil dengan Kasih
Kehidupan tidak selalu menghadirkan kesempatan besar. Sebagian besar hari kita justru berisi pekerjaan sederhana.
Kita bangun pagi, bekerja, mengurus keluarga, bertemu orang lain, dan menyelesaikan berbagai tanggung jawab.
Namun, kita dapat memberi makna besar pada semua kegiatan tersebut.
Lakukan pekerjaan dengan jujur. Berbicaralah dengan lembut. Bantu orang yang membutuhkan. Maafkan kesalahan orang lain. Luangkan waktu untuk berdoa.
Kita tidak perlu menunggu kesempatan besar untuk menunjukkan kasih.
Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus juga menghayati jalan kesederhanaan melalui tindakan kecil yang ia jalani dengan kasih. Tradisi Gereja mengenang spiritualitasnya sebagai jalan kecil yang mengajak umat menemukan kekudusan dalam kesetiaan pada hal-hal sederhana.
Jangan Mengejar Pengakuan Manusia
Keinginan mendapat pengakuan dapat membuat hati mudah lelah.
Kita bisa merasa kecewa ketika orang lain tidak menghargai usaha kita. Kita juga bisa merasa iri ketika melihat keberhasilan orang lain.
Yesus mengajak kita mengubah orientasi tersebut.
Lakukan kebaikan karena kasih. Bekerjalah dengan tulus. Layani orang lain tanpa terus menghitung penghargaan yang akan kita terima.
Tuhan melihat ketulusan hati.
Manusia mungkin hanya melihat hasil. Tuhan melihat proses dan niat yang kita bawa.
Jiwa Sederhana Membawa Kedamaian
Hati yang sederhana membuat kita lebih mudah bersyukur. Kemudian, kita menyerahkan perjalanan hidup kepada Tuhan.
Dengan demikian, kita dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang.
Menjadi seperti anak kecil berarti memiliki hati yang terbuka, rendah hati, percaya, dan mudah bersyukur.
Renungan Hari Ini
Mari bertanya kepada diri sendiri: apakah hati kita masih sederhana?
Pertanyaan tersebut dapat membantu kita melihat kondisi hati.
Tuhan tidak meminta kita menjadi manusia sempurna dalam satu malam. Tuhan mengajak kita terus bertumbuh.
Mulailah dari hal kecil.
Berdoalah dengan tulus. Bersyukurlah atas kehidupan. Perlakukan orang lain dengan kasih. Kerjakan tanggung jawab dengan jujur. Kemudian, serahkan kekhawatiran kepada Tuhan.
Jiwa sederhana seperti anak kecil bukan tanda kelemahan. Sikap itu menunjukkan keberanian untuk percaya kepada Tuhan.
Semoga kita mampu menjalani setiap hari dengan hati yang rendah hati, sederhana, dan penuh kasih. Semoga kita juga semakin peka terhadap penyertaan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan.




