
renunganhariankatolik.web.id – Kardinal Luis Antonio Tagle menyebut Beato Fulton J. Sheen sebagai pewarta Injil yang tidak kenal lelah. Ia menyampaikan pesan tersebut dalam Misa beatifikasi Fulton Sheen di St. Louis, Amerika Serikat.
Gereja Katolik menggelar perayaan tersebut pada 24 September 2026. Kardinal Tagle memimpin Misa sebagai utusan Paus Leo XIV.
Dalam homilinya, Tagle menyoroti dua sisi utama kehidupan Sheen. Pertama, Sheen menjalankan peran sebagai pewarta Injil. Kedua, ia menjalankan tugas sebagai gembala yang membawa semangat misioner.
Menurut Tagle, Sheen tidak hanya mengandalkan kemampuan berbicara. Ia membangun seluruh pelayanannya melalui relasi yang kuat dengan Yesus Kristus.
Karena itu, Tagle mengajak umat melihat Sheen lebih jauh daripada popularitasnya sebagai tokoh media.
Sheen Menempatkan Kristus di Pusat Misi
Tagle menjelaskan bahwa seorang pewarta Injil harus mengenal Kristus sebelum mengajak orang lain mengenal-Nya.
Sheen menjalani prinsip tersebut sepanjang hidupnya. Ia mengembangkan kemampuan mengajar dan berkomunikasi, tetapi tetap menempatkan doa sebagai dasar pelayanannya.
Sheen memiliki kebiasaan melakukan adorasi Ekaristi setiap hari. Ia menjalankan kebiasaan tersebut sejak awal masa imamatnya.
Kebiasaan itu membantu Sheen menjaga hubungan pribadi dengan Yesus. Dari sana, ia memperoleh kekuatan untuk menjalankan tugas pewartaan.
Dengan demikian, Tagle melihat keberhasilan Sheen bukan hanya dari jumlah pendengar atau penonton.
Ia justru menyoroti hubungan Sheen dengan Kristus dan kepeduliannya kepada sesama.
Tagle Soroti Kerendahan Hati Sheen
Popularitas membuat nama Fulton Sheen dikenal luas di Amerika Serikat. Namun, Tagle mengatakan Sheen tidak menjadikan popularitas sebagai ukuran keberhasilan.
Tagle menceritakan percakapan Sheen dengan Paus Pius XII. Dalam percakapan itu, Pius XII bertanya mengenai jumlah orang yang bertobat melalui pelayanan Sheen.
Sheen tidak menghitung jumlah tersebut.
Ia khawatir angka itu membuat dirinya menganggap keberhasilan tersebut sebagai miliknya sendiri.
Sheen justru menggambarkan dirinya sebagai seorang penjaga pintu. Ia merasa hanya membantu orang menemukan pintu menuju rumah Allah.
Kisah tersebut menunjukkan sikap rendah hati yang Tagle anggap penting dalam kehidupan seorang pewarta.
Seorang evangelis tidak perlu mengejar pengakuan pribadi. Ia perlu membuka jalan agar orang semakin mengenal Kristus.
Sheen Manfaatkan Media untuk Mewartakan Injil
Fulton Sheen hidup pada masa ketika radio dan televisi mulai menjangkau masyarakat secara luas.
Ia melihat perkembangan teknologi komunikasi sebagai kesempatan untuk menyebarkan pesan Injil.
Pada 1930, Sheen mulai memimpin program radio The Catholic Hour. Program tersebut kemudian menjangkau jutaan pendengar di Amerika Serikat.
Selanjutnya, ia memasuki dunia televisi melalui program Life Is Worth Living.
Sheen tampil dengan gaya sederhana. Ia menggunakan papan tulis dan menjelaskan berbagai persoalan kehidupan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Program tersebut menarik puluhan juta penonton sepanjang masa tayangnya.
Sheen membahas iman, moralitas, keluarga, penderitaan, serta martabat manusia. Ia juga menggunakan humor dan cerita untuk membantu penonton memahami gagasan yang rumit.
Cara tersebut membuat Sheen menjadi salah satu komunikator Katolik paling dikenal pada abad ke-20.
Tagle Tekankan Perhatian kepada Kaum Miskin
Selain kemampuan berkomunikasi, Tagle juga menyoroti kepedulian Sheen kepada masyarakat miskin dan kelompok rentan.
Menurut Tagle, seorang misionaris tidak boleh hanya berbicara kepada masyarakat secara umum.
Ia harus hadir bersama manusia yang membutuhkan perhatian.
Sheen menjalankan semangat tersebut ketika memimpin Society for the Propagation of the Faith. Ia mendukung karya misi Gereja di berbagai wilayah.
Ia juga mengunjungi daerah yang membutuhkan pelayanan Gereja.
Dengan cara itu, Sheen menghubungkan pewartaan Injil dengan tindakan nyata.
Tagle kemudian mengingatkan umat bahwa misi Gereja selalu menyentuh kehidupan manusia.
Pewarta tidak hanya menyampaikan pesan melalui kata-kata. Ia juga menunjukkan kasih melalui tindakan.
Sheen Menjadi Teladan Evangelisasi Modern
Kehidupan Sheen menawarkan contoh menarik bagi Gereja pada era komunikasi digital.
Ia hidup jauh sebelum internet dan media sosial berkembang. Namun, ia sudah memahami pentingnya menggunakan teknologi untuk menjangkau masyarakat.
Sheen tidak melihat media hanya sebagai sarana hiburan.
Ia memanfaatkannya sebagai ruang untuk berbicara tentang iman dan persoalan manusia.
Karena itu, warisannya masih relevan bagi Gereja masa kini.
Gereja menghadapi masyarakat yang semakin terhubung melalui teknologi. Kondisi tersebut membuka peluang baru bagi evangelisasi.
Namun, Tagle mengingatkan bahwa teknologi saja tidak cukup.
Pewarta tetap membutuhkan hubungan yang kuat dengan Kristus.
Paus Leo XIV Rayakan Warisan Sheen
Paus Leo XIV turut menyambut beatifikasi Fulton Sheen.
Dalam surat apostolik yang menetapkan Sheen sebagai Beato, Paus Leo menggambarkannya sebagai pewarta Injil yang tidak kenal lelah melalui sarana komunikasi modern.
Paus juga menyoroti Sheen sebagai gembala yang memiliki semangat misioner.
Gambaran tersebut sejalan dengan pesan Kardinal Tagle dalam Misa beatifikasi.
Tagle melihat dua unsur itu sebagai bagian penting dari kehidupan Sheen.
Ia menggabungkan kemampuan berkomunikasi dengan semangat pelayanan.
Karena itu, Gereja kini mengenang Sheen bukan hanya sebagai tokoh media.
Gereja juga mengenangnya sebagai seorang gembala dan misionaris.
Ribuan Umat Hadiri Misa Beatifikasi
Perayaan beatifikasi berlangsung di The Dome at America’s Center, St. Louis.
Penyelenggara memperkirakan sekitar 50.000 orang hadir dalam perayaan tersebut.
Para imam, uskup, kardinal, dan umat dari berbagai wilayah datang untuk mengikuti momen penting itu.
Gereja juga menampilkan potret resmi Fulton Sheen dalam perayaan tersebut.
Sebuah relik utama Sheen turut hadir dalam Misa. Relik tersebut berupa tulang rahangnya yang mengingatkan umat pada kemampuannya sebagai pengkhotbah dan komunikator.
Momentum tersebut sekaligus memperkenalkan kembali warisan Sheen kepada generasi baru.
Pesan Sheen Tetap Relevan
Kardinal Tagle mengajak umat melihat kehidupan Sheen sebagai panggilan untuk menjalankan misi.
Seorang pewarta perlu mengenal Kristus, bekerja dengan rendah hati, dan hadir bagi orang lain.
Sheen menunjukkan hal tersebut melalui pelayanan panjangnya.
Ia berkhotbah melalui radio. Ia berbicara melalui televisi. Ia menulis buku. Ia mengajar. Ia melayani misi Gereja.
Namun, Sheen tetap mengarahkan semua kemampuan tersebut kepada satu tujuan.
Ia ingin membawa manusia semakin dekat kepada Kristus.
Karena itu, sebutan “pewarta Injil yang tak kenal lelah” menggambarkan semangat yang Tagle lihat dalam kehidupan Sheen.
Bagi Gereja masa kini, warisan tersebut memberi pesan penting. Teknologi dapat membuka pintu evangelisasi, tetapi iman, kerendahan hati, dan kepedulian kepada sesama tetap menjadi dasar.
Dengan semangat itu, Gereja mengenang Beato Fulton Sheen sebagai tokoh yang memanfaatkan kemampuan komunikasi untuk menjalankan misi Injil. Tagle berharap umat melihat teladan tersebut sebagai dorongan untuk terus membawa pesan Kristiani kepada dunia.




