Kelompok Gereja Filipina Sambut Kebebasan Mary Jane Veloso

renunganhariankatolik.web.id – Sejumlah kelompok Gereja di Filipina menyambut kebebasan Mary Jane Veloso setelah bertahun-tahun menjalani proses hukum terkait kasus narkoba di Indonesia.
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. memberikan pengampunan penuh kepada Veloso pada 24 September 2026. Setelah itu, petugas membebaskan Veloso dari Correctional Institution for Women di Mandaluyong pada 25 September.
Veloso kemudian kembali berkumpul dengan keluarganya. Ia menghabiskan hampir 15 tahun dalam ancaman hukuman mati di Indonesia. Pemerintah Indonesia dan Filipina juga mencapai kesepakatan pada 2024 untuk memindahkan Veloso ke Filipina.
Kabar tersebut langsung mendapat perhatian dari berbagai kelompok Gereja. Mereka melihat kebebasan Veloso sebagai momentum penting bagi perlindungan pekerja migran.
Gereja Katolik Sambut Pengampunan Veloso
Komisi Waligereja Filipina untuk Pelayanan Pastoral bagi Migran dan Pengembara menyambut keputusan Marcos.
Uskup Socrates Mesiona memimpin komisi tersebut. Ia mengatakan Veloso dan keluarganya telah melewati masa yang sangat berat.
Selain itu, Caritas Filipina juga menyambut kepulangan Veloso. Uskup Gerardo Alminaza memimpin organisasi tersebut.
Menurut Alminaza, perjalanan Veloso berlangsung panjang dan penuh penderitaan. Ia berharap kepulangan Veloso membawa pemulihan bagi keluarga.
Gereja juga mengingatkan pemerintah agar memperkuat perlindungan bagi pekerja migran. Mereka menilai kasus Veloso menunjukkan risiko besar yang dapat menghadang pekerja Filipina di luar negeri.
Karena itu, kelompok Gereja meminta pemerintah memperkuat pendampingan hukum. Mereka juga mendorong perlindungan terhadap pekerja yang menghadapi eksploitasi dan perdagangan manusia.
Kelompok Gereja Dampingi Veloso Selama Bertahun-tahun
Gereja-gereja di Filipina tidak hanya menyambut kebebasan Veloso. Mereka juga mengingat kembali perjalanan panjang yang mereka jalani bersama Veloso dan keluarganya.
Churches Witnessing with Migrants atau CWWM menjadi salah satu kelompok yang aktif mendampingi kasus tersebut. National Council of Churches in the Philippines atau NCCP juga menyambut kebebasan Veloso.
Juru bicara CWWM, Rev. Marie Sol Villalon, mengatakan gereja, organisasi masyarakat, dan berbagai komunitas terus mendampingi Veloso selama berada dalam tahanan.
Mereka juga menjalankan doa dan advokasi. Selain itu, mereka mendorong pemerintah Filipina dan Indonesia mencari penyelesaian yang adil bagi Veloso.
Dengan demikian, kebebasan Veloso tidak hanya mendapat perhatian dari pemerintah. Kelompok keagamaan dan organisasi masyarakat juga ikut menyambut perkembangan tersebut.
Perjalanan Panjang Mary Jane Veloso
Kasus Veloso bermula pada 2010. Aparat Indonesia menangkapnya setelah menemukan sekitar 2,6 kilogram heroin dalam koper yang ia bawa.
Pengadilan Indonesia kemudian menjatuhkan hukuman mati kepada Veloso. Ia menjalani hampir 15 tahun dalam tahanan di Indonesia.
Pada 2015, pemerintah Indonesia menunda eksekusi Veloso. Keputusan tersebut muncul setelah pemerintah Filipina meminta kesempatan agar Veloso dapat memberikan kesaksian terkait kasus perekrutan dirinya.
Veloso dan para pendukungnya sejak awal menyatakan bahwa perekrut menipunya. Mereka mengatakan perekrut meminta Veloso membawa koper tanpa mengetahui isi sebenarnya.
Pemerintah Filipina kemudian terus mengupayakan kepulangan Veloso. Pada Desember 2024, Indonesia menyerahkan Veloso kepada otoritas Filipina untuk menjalani sisa hukumannya di negara asal.
Pada November 2024, pemerintah Indonesia juga mengubah hukuman Veloso dari hukuman mati menjadi penjara seumur hidup.
Marcos Beri Pengampunan Penuh
Perkembangan terbaru datang pada September 2026. Marcos memberikan pengampunan penuh kepada Veloso.
Keputusan itu mengakhiri masa tahanan Veloso di Filipina. Setelah keluar dari penjara, Veloso bertemu kembali dengan keluarganya.
Veloso kemudian menghadiri misa syukur bersama keluarga di Quezon City. Momen tersebut menjadi bagian penting dari kepulangannya setelah menjalani proses hukum selama bertahun-tahun.
Marcos sebelumnya terus mendorong penyelesaian kasus Veloso. Pemerintah Filipina juga berulang kali meminta bantuan pemerintah Indonesia dalam proses tersebut.
Kini, Veloso dapat memulai kehidupan baru bersama keluarganya.
Gereja Dorong Perlindungan Pekerja Migran
Kebebasan Veloso juga memunculkan kembali pembahasan tentang perlindungan pekerja migran Filipina.
Komisi Hak Asasi Manusia Filipina menilai kasus Veloso menunjukkan kerentanan pekerja migran terhadap perekrutan ilegal, perdagangan manusia, dan eksploitasi. Komisi itu juga meminta pemerintah memperkuat bantuan hukum serta layanan konsuler bagi pekerja Filipina di luar negeri.
Kelompok Gereja menyampaikan pesan yang serupa. Mereka ingin pemerintah memperkuat sistem perlindungan sebelum pekerja migran berangkat ke luar negeri.
Selain itu, Gereja mendorong pemerintah menindak perekrut ilegal. Langkah tersebut penting untuk mencegah kasus serupa pada masa depan.
Pada saat yang sama, kelompok Gereja meminta perhatian lebih besar terhadap pekerja perempuan. Mereka melihat perempuan migran menghadapi sejumlah risiko ketika bekerja jauh dari keluarga.
Karena itu, kasus Veloso kini tidak hanya berbicara tentang kebebasan satu orang. Kasus tersebut juga membuka ruang bagi pembahasan lebih luas mengenai hak pekerja migran.
Veloso Memulai Babak Baru
Setelah bertahun-tahun menjalani proses hukum, Mary Jane Veloso akhirnya kembali ke keluarganya.
Pengampunan penuh dari Marcos mengakhiri masa tahanannya. Kepulangan itu juga mendapat dukungan dari kelompok Gereja Katolik dan Protestan di Filipina.
Namun, Gereja tidak ingin perhatian berhenti pada kebebasan Veloso. Mereka ingin pemerintah mengambil pelajaran dari kasus tersebut.
Perlindungan pekerja migran menjadi salah satu perhatian utama. Selain itu, pemerintah perlu memperkuat pencegahan perdagangan manusia dan perekrutan ilegal.
Dengan dukungan keluarga, Gereja, dan kelompok masyarakat, Veloso kini menghadapi tahap baru dalam hidupnya. Ia dapat kembali membangun hubungan dengan keluarganya setelah melewati masa panjang dalam tahanan.




