Mengapa Biarawan Fransiskan Memakai Jubah Coklat? Ini Makna dan Sejarahnya

renunganhariankatolik.web.id – Banyak umat Katolik langsung mengenali seorang biarawan Fransiskan melalui jubah sederhana yang memiliki warna coklat. Sebuah tali putih biasanya melingkari pinggang mereka. Penampilan itu terasa sangat berbeda dari pakaian sehari-hari masyarakat modern.
Namun, mengapa banyak biarawan Fransiskan memilih warna coklat?
Jawabannya tidak hanya berkaitan dengan tradisi pakaian. Warna tersebut membawa pesan tentang kehidupan sederhana, kemiskinan, kerendahan hati, dan kedekatan dengan ciptaan.
Tradisi Fransiskan mengambil inspirasi utama dari Santo Fransiskus dari Assisi. Ia meninggalkan kenyamanan hidup dan memilih mengikuti Kristus melalui cara hidup yang sederhana.
Menariknya, Santo Fransiskus tidak menetapkan bahwa para saudaranya harus mengenakan jubah coklat. Ia lebih menekankan pakaian sederhana dan murah daripada warna tertentu.
Santo Fransiskus Memilih Kesederhanaan
Santo Fransiskus dari Assisi lahir dalam keluarga yang cukup berada pada akhir abad ke-12. Ayahnya bekerja sebagai pedagang kain dan menginginkan kehidupan yang mapan bagi putranya.
Namun, perjalanan rohani mengubah arah kehidupan Fransiskus.
Ia meninggalkan kekayaan keluarga dan memilih hidup bersama masyarakat sederhana. Fransiskus ingin mengikuti kehidupan Yesus Kristus melalui kemiskinan, doa, pelayanan, dan persaudaraan.
Ketika komunitas pertama Fransiskan mulai berkembang pada awal abad ke-13, para saudara tidak mengejar pakaian yang indah atau mahal. Mereka mengenakan pakaian sederhana sesuai kehidupan masyarakat miskin pada masa tersebut.
Bagi Fransiskus, seorang saudara tidak membutuhkan pakaian mewah untuk menunjukkan identitasnya. Cara hidup justru harus menunjukkan kedekatan dengan Kristus.
Prinsip itu kemudian membentuk identitas Fransiskan selama berabad-abad.
Apakah Santo Fransiskus Memerintahkan Jubah Coklat?
Tidak.
Santo Fransiskus tidak menuliskan aturan yang mewajibkan seluruh saudara mengenakan warna coklat tertentu. Dalam aturan hidupnya, ia lebih menekankan pakaian yang sederhana dan sesuai semangat kemiskinan.
Karena alasan tersebut, keluarga Fransiskan sepanjang sejarah memakai beberapa warna.
Sebagian komunitas memakai coklat tua. Komunitas lain memilih coklat muda, abu-abu, atau warna lain yang sesuai tradisi masing-masing.
Karena itu, umat tidak boleh menganggap semua cabang Fransiskan selalu memakai warna coklat yang sama.
Namun, warna coklat akhirnya memperoleh hubungan yang sangat kuat dengan identitas Fransiskan.
Warna Coklat Menggambarkan Kesederhanaan
Masyarakat pada zaman Santo Fransiskus sering menghubungkan warna tanah dengan kehidupan sederhana.
Orang miskin tidak mempunyai banyak pilihan untuk membeli kain mahal dengan warna cerah. Mereka lebih sering memakai kain sederhana dengan warna alami.
Fransiskus justru memilih kehidupan seperti itu.
Ia tidak ingin pakaian menciptakan jarak antara dirinya dan masyarakat kecil. Ia ingin hadir sebagai saudara bagi semua orang.
Karena itu, warna tanah seperti coklat atau abu-abu sangat cocok dengan semangat tersebut.
Warna coklat juga tidak menarik perhatian secara berlebihan. Karakter itu sejalan dengan keinginan Fransiskus untuk hidup dalam kerendahan hati.
Coklat Mengingatkan Manusia pada Tanah
Warna coklat juga memiliki hubungan visual yang kuat dengan tanah.
Bagi spiritualitas Fransiskan, hubungan tersebut memiliki makna yang menarik. Santo Fransiskus melihat seluruh ciptaan sebagai bagian dari karya Tuhan.
Ia menyebut matahari sebagai saudara. Ia juga menyebut bulan, air, api, dan bumi dengan bahasa persaudaraan.
Pandangan itu menunjukkan kedekatan Fransiskus dengan alam.
Karena itu, jubah yang memiliki warna tanah dapat mengingatkan seorang Fransiskan tentang kesederhanaan manusia sekaligus hubungan manusia dengan ciptaan.
Manusia berasal dari debu tanah dan akhirnya kembali kepada tanah. Kesadaran tersebut mendorong manusia untuk meninggalkan kesombongan.
Seorang Fransiskan berusaha membawa semangat itu dalam kehidupan sehari-hari.
Jubah Menunjukkan Semangat Kemiskinan Fransiskan
Kemiskinan memegang posisi penting dalam spiritualitas Santo Fransiskus.
Namun, Fransiskus tidak melihat kemiskinan hanya sebagai keadaan tanpa uang. Ia melihat kemiskinan sebagai kebebasan dari keterikatan berlebihan terhadap harta dan status.
Ia ingin para saudaranya mengandalkan Tuhan dan hidup sebagai saudara bagi semua orang.
Jubah sederhana membantu mengingatkan mereka terhadap pilihan tersebut.
Seorang Fransiskan tidak membutuhkan pakaian mewah untuk memperoleh kehormatan. Ia justru berusaha menunjukkan nilai hidup melalui pelayanan, doa, persaudaraan, dan kedekatan dengan masyarakat.
Karena itu, jubah coklat membawa pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar pilihan warna.
Tali Putih pada Jubah Fransiskan Juga Memiliki Makna
Selain jubah coklat, banyak orang memperhatikan tali putih yang melingkari pinggang seorang Fransiskan.
Tali tersebut sering memiliki tiga simpul.
Tiga simpul itu mengingatkan para Fransiskan terhadap tiga nasihat Injili: kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan.
Ketiga komitmen tersebut membentuk kehidupan religius mereka.
Kemiskinan mengajak mereka menjalani kehidupan sederhana. Kemurnian mengarahkan hati mereka untuk memberikan diri secara penuh kepada Tuhan dan pelayanan. Ketaatan mengajak mereka menjalani panggilan dalam komunitas serta mengikuti aturan hidup religius.
Karena itu, jubah dan tali membentuk simbol yang saling melengkapi.
Tidak Semua Fransiskan Memakai Warna yang Sama
Keluarga besar Fransiskan memiliki sejarah panjang dan beberapa cabang.
Ordo Saudara Dina atau OFM menjadi salah satu kelompok utama. Selain itu, Gereja juga memiliki OFM Conventual dan OFM Capuchin serta berbagai kongregasi Fransiskan lainnya.
Masing-masing komunitas memiliki tradisi pakaian yang dapat berbeda.
Beberapa menggunakan coklat tua. Sebagian memilih warna coklat yang lebih terang. Beberapa tradisi Fransiskan juga menggunakan abu-abu.
Sejarah bahkan mencatat penggunaan beberapa warna lain dalam keluarga Fransiskan.
Perbedaan tersebut tidak mengubah pusat spiritualitas mereka.
Mereka tetap mengambil inspirasi dari kehidupan Santo Fransiskus dari Assisi dan semangat mengikuti Kristus yang miskin serta rendah hati.
Jubah Bukan Sekadar Seragam
Bagi seorang Fransiskan, jubah religius seharusnya tidak berhenti sebagai identitas organisasi.
Jubah memiliki fungsi sebagai pengingat.
Ketika seorang saudara mengenakannya, ia mengingat kembali panggilan untuk menjalani kehidupan sederhana. Ia juga mengingat komitmen untuk melayani, membangun persaudaraan, menjaga ciptaan, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Karena itu, orang tidak bisa memahami spiritualitas Fransiskan hanya melalui pakaian.
Pada Juli 2026, sebuah refleksi Franciscan Media kembali menekankan gagasan bahwa hidup sebagai Fransiskan tidak hanya berbicara tentang jubah coklat atau abu-abu. Spiritualitas Fransiskan menuntut seseorang untuk membawa cara hidup Santo Fransiskus dalam hubungan dengan Tuhan, sesama, dan seluruh ciptaan.
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa pakaian hanya menjadi tanda luar.
Cara hidup tetap menjadi bagian terpenting.
Makna Jubah Coklat Fransiskan Tetap Hidup Hingga Sekarang
Lebih dari delapan abad setelah Santo Fransiskus menjalani kehidupan di Assisi, jubah sederhana Fransiskan masih membawa pesan yang kuat.
Warna coklat mengingatkan banyak orang kepada tanah, kehidupan sederhana, kemiskinan, dan kerendahan hati.
Namun, sejarah Fransiskan menunjukkan hal yang lebih penting. Santo Fransiskus tidak mengejar keseragaman warna. Ia meminta para saudaranya menjalani kesederhanaan dan menjauhi kemewahan.
Karena itu, pertanyaan tentang mengapa biarawan Fransiskan memakai warna coklat memiliki jawaban yang lebih dalam daripada sekadar tradisi.




