Pejabat Vatikan Tekankan Misi Pastoral WYD Seoul 2027

renunganhariankatolik.web.id – Pejabat Vatikan menekankan makna pastoral dalam persiapan World Youth Day atau Hari Orang Muda Sedunia (WYD) Seoul 2027. Kardinal Kevin Farrell mengajak Gereja mendampingi kaum muda dalam perjalanan iman menuju pertemuan besar di Korea Selatan.
Farrell menyampaikan pesan tersebut saat membuka Pertemuan Persiapan Kedua WYD Seoul 2027 pada 14 September 2026. Pertemuan itu berlangsung di Incheon hingga 17 September.
Sekitar 300 delegasi dari lebih dari 100 negara mengikuti pertemuan tersebut. Mereka membahas persiapan teknis sekaligus memperdalam makna WYD bagi kehidupan Gereja dan kaum muda.
WYD Seoul 2027 sendiri akan berlangsung pada 3–8 Agustus 2027. Agenda tersebut akan mempertemukan kaum muda Katolik dari berbagai negara.
WYD Bukan Sekadar Acara Besar
Kardinal Farrell meminta Gereja melihat WYD sebagai perjalanan iman. Ia tidak ingin Gereja hanya berfokus pada pelaksanaan acara selama beberapa hari.
Menurut Farrell, proses persiapan juga memiliki nilai pastoral. Gereja dapat mendampingi kaum muda melalui paroki, keuskupan, keluarga, dan komunitas.
Pendekatan tersebut membuat persiapan WYD memiliki makna yang lebih luas. Kaum muda dapat mempersiapkan hati sekaligus memperkuat hubungan mereka dengan Gereja.
Karena itu, para pendamping kaum muda memegang peran penting. Mereka dapat membantu anak muda memahami iman dalam kehidupan sehari-hari.
Kardinal Farrell Ajak Anak Muda Menatap Kristus
Dalam homilinya, Farrell berbicara tentang tantangan yang banyak anak muda hadapi. Ia menyoroti kebingungan, kehampaan, kesedihan, dan hilangnya harapan.
Kondisi tersebut membuat Gereja perlu menghadirkan pendampingan yang dekat. Gereja juga perlu membantu kaum muda menemukan arah hidup.
Farrell mengajak mereka menatap Kristus dan membuka hati kepada kasih Allah. Ia melihat salib Kristus sebagai simbol kasih, pengampunan, dan rekonsiliasi.
Pesan itu menjadi bagian penting dari persiapan menuju Seoul. Gereja ingin membantu kaum muda menemukan harapan melalui iman.
Selain itu, Farrell melihat WYD sebagai ruang untuk membangun hubungan. Kaum muda dari berbagai negara dapat bertemu dan mengenal satu sama lain.
Kaum Muda Bisa Melawan Perpecahan
WYD juga membawa pesan tentang persatuan. Ribuan anak muda dari berbagai budaya akan berkumpul di Seoul.
Mereka memiliki bahasa, tradisi, dan pengalaman yang berbeda. Namun, mereka dapat menemukan persamaan melalui iman.
Farrell menilai perjumpaan seperti itu dapat menunjukkan kekuatan persaudaraan. Kaum muda dapat belajar menerima perbedaan tanpa rasa takut.
Lebih jauh, pertemuan tersebut dapat membuka ruang dialog. Anak muda dapat berbagi pengalaman dan memahami kehidupan orang lain.
Dengan cara itu, WYD tidak hanya menghadirkan perayaan keagamaan. Pertemuan tersebut juga dapat mendorong kaum muda membangun hubungan yang lebih terbuka.
Persiapan Seoul Masuk Tahap Penting
Panitia lokal terus mempercepat persiapan menuju Agustus 2027. Mereka menyiapkan pelayanan bagi para peziarah, akomodasi, transportasi, keamanan, kesehatan, dan komunikasi.
Gereja lokal juga melibatkan banyak paroki dalam persiapan tersebut. Sebanyak 230 paroki di Keuskupan Agung Seoul ikut menyiapkan keluarga yang dapat menyambut para peziarah.
Langkah itu menunjukkan peran penting komunitas lokal. Gereja ingin para peziarah merasakan keramahan masyarakat Korea.
Panitia juga terus merekrut relawan. Ratusan relawan sudah bergabung dalam proses persiapan.
Jumlah tersebut masih akan bertambah. Panitia menargetkan sekitar 30.000 relawan untuk mendukung WYD Seoul 2027.
Gereja Korea Ingin Menyambut Dunia
WYD Seoul 2027 memiliki makna khusus bagi Gereja Korea. Korea Selatan menjadi tuan rumah WYD kedua di Asia setelah Manila pada 1995.
Korea juga memiliki sejarah panjang dalam perkembangan Gereja Katolik Asia. Karena itu, pertemuan di Seoul dapat memperkenalkan pengalaman Gereja Korea kepada dunia.
Panitia menyiapkan berbagai kegiatan untuk memperkenalkan budaya lokal. Mereka juga membuka ruang bagi peserta internasional untuk mengenal komunitas Katolik Korea.
Selain itu, Gereja lokal ingin membangun hubungan dengan kaum muda dari berbagai negara. Pertemuan persiapan di Incheon sudah menunjukkan arah tersebut.
Para delegasi dari berbagai benua bertukar pengalaman selama kegiatan berlangsung. Mereka juga membahas cara mendampingi kaum muda di wilayah masing-masing.
Tema WYD Menguatkan Persiapan Rohani
WYD Seoul 2027 mengangkat tema dari Injil Yohanes, yaitu “Take courage! I have overcome the world”. Tema tersebut mengajak kaum muda menghadapi tantangan dengan keberanian dan harapan.
Panitia juga sudah memperkenalkan lagu resmi WYD. Lagu itu membantu kaum muda mengenal tema pertemuan sebelum mereka datang ke Seoul.
Selain lagu, panitia menyiapkan doa resmi dan memperkenalkan lima santo pelindung WYD. Tokoh-tokoh tersebut memberikan contoh kehidupan iman bagi generasi muda.
Dengan demikian, persiapan rohani berjalan bersama persiapan teknis. Gereja ingin setiap peserta memiliki pengalaman yang lebih mendalam.
Harapan Gereja untuk Kaum Muda
Farrell melihat kaum muda sebagai bagian penting dari masa depan Gereja dan dunia. Karena itu, Gereja perlu mendengar suara mereka.
Pendampingan juga harus berjalan sebelum dan sesudah WYD. Gereja dapat membawa semangat pertemuan itu kembali ke paroki dan komunitas masing-masing.
Harapan tersebut membuat makna pastoral menjadi semakin penting. WYD tidak berhenti ketika peserta meninggalkan Seoul.
Sebaliknya, pengalaman selama pertemuan dapat mendorong kaum muda mengambil langkah baru. Mereka dapat memperkuat iman, membangun keluarga, melayani sesama, atau mempertimbangkan panggilan hidup dalam Gereja.
Seoul 2027 Menjadi Perjalanan Bersama
Persiapan WYD Seoul 2027 kini memasuki tahap yang semakin intensif. Gereja lokal dan berbagai komunitas internasional terus bekerja bersama.
Kardinal Farrell mengingatkan bahwa proses tersebut memiliki tujuan yang lebih besar. Gereja ingin membantu kaum muda menemukan harapan dan memperdalam hubungan mereka dengan Kristus.
Pada saat yang sama, WYD dapat mempertemukan generasi muda dari berbagai budaya. Pertemuan itu membuka kesempatan untuk membangun persahabatan dan persaudaraan.
Karena itu, Gereja melihat Seoul 2027 bukan hanya sebagai agenda internasional. Gereja ingin menjadikannya perjalanan iman yang melibatkan kaum muda, keluarga, paroki, keuskupan, dan komunitas dari berbagai negara.
Dengan persiapan yang terus berjalan, Seoul mulai menatap kedatangan jutaan kaum muda dari seluruh dunia. Gereja berharap mereka tidak hanya membawa pulang kenangan, tetapi juga semangat baru untuk menjalani iman dan menghadirkan harapan di tengah masyarakat.




