
renunganhariankatolik.web.id – Para biarawati Katolik terus mendampingi penyintas kusta di Vietnam. Mereka membawa makanan, bantuan pendidikan, perhatian, dan persahabatan bagi keluarga yang menghadapi stigma sosial.
Pelayanan itu berlangsung di sejumlah wilayah Vietnam bagian tengah. Para suster mengunjungi keluarga yang pernah menghadapi penyakit Hansen. Mereka juga menemui anak dan cucu para penyintas.
Vietnam berhasil menekan penyebaran penyakit Hansen dalam beberapa tahun terakhir. Negara itu mencatat 38 kasus baru pada 2025. Angka tersebut menjadi yang terendah dalam catatan nasional.
Namun, keberhasilan medis belum menghapus stigma. Sekitar 6.000 orang masih hidup dengan dampak penyakit tersebut. Banyak dari mereka sudah sembuh secara medis. Meski begitu, sebagian masih mengalami disabilitas dan kesulitan ekonomi.
Stigma Masih Membayangi Kehidupan
Penyakit Hansen dapat menyerang kulit, saraf tepi, mata, serta saluran pernapasan bagian atas. Pengobatan dini dapat mencegah dampak serius.
Masalah sosial tetap menjadi tantangan besar. Sebagian penyintas masih menghadapi penolakan karena perubahan fisik akibat penyakit.
Kisah Le Trai menggambarkan persoalan tersebut. Pria berusia 82 tahun itu mengalami perubahan bentuk pada tangannya akibat kusta.
Ia tinggal di kawasan pemukiman penyintas kusta di Da Nang. Rasa takut terhadap diskriminasi membuatnya jarang keluar rumah.
Pengalaman itu menunjukkan bahwa luka kusta tidak hanya menyentuh tubuh. Penyakit tersebut juga dapat meninggalkan luka sosial yang panjang.
Karena itu, para suster memilih hadir secara langsung untuk berbicara dengan keluarga, mendengarkan cerita para penyintas, dan juga membawa bantuan sesuai kebutuhan.
Suster Membawa Makanan dan Bantuan Pendidikan
Kongregasi Suster St. Paul de Chartres menjadi salah satu kelompok yang aktif mendampingi penyintas kusta.
Para suster membantu Teresa Nguyen Thi Duoc, seorang penyintas kusta di Da Nang. Teresa sembuh dari penyakit tersebut pada 2007.
Ia pernah berjualan ikan dari rumah ke rumah. Namun, sebagian pelanggan menolak membeli dagangannya. Kondisi itu membuat Teresa kesulitan memenuhi kebutuhan keluarganya.
Para suster kemudian membuka akses bantuan bagi Teresa dan putranya. Mereka membantu kebutuhan makanan dan biaya sekolah sang anak.
Teresa akhirnya membangun kehidupan baru. Ia mendapat dukungan untuk membeli sebidang tanah. Setelah itu, ia membangun rumah dan membuka warung kecil.
Kini Teresa menjalani kehidupan yang lebih tenang. Ia juga merasakan penerimaan dari lingkungan sekitar.
Kisah tersebut menunjukkan dampak pelayanan yang konsisten. Bantuan sederhana dapat membuka jalan menuju kehidupan yang lebih mandiri.
Kunjungan Rutin Menguatkan Keluarga
Pada 30 Mei 2026, empat suster dari Kongregasi Putri Maria Imakulata bersama lima relawan mengunjungi 25 keluarga di wilayah antara Lang Co dan Hai Van.
Mereka membawa minyak goreng, gula, garam, permen, serta pakaian. Para suster juga mengajak anak-anak bermain dan bernyanyi.
Kegiatan tersebut memberi ruang bagi keluarga untuk berkumpul. Para suster tidak hanya menyerahkan bantuan. Mereka juga menyediakan waktu untuk berbicara dan mendengarkan.
Suster Marie Martha Tran Thi Tuyet juga menyimpan pengalaman khusus. Pada masa Adven 2025, ia mengunjungi seorang perempuan berusia 82 tahun yang terbaring karena kusta.
Suster Tuyet membantu perempuan itu duduk dan menyuapinya makanan. Perhatian sederhana tersebut memberikan rasa nyaman dan mengurangi kesepian.
Dengan demikian, pelayanan para suster tidak berhenti pada bantuan material. Mereka juga membangun hubungan manusiawi yang memberi kekuatan bagi para penyintas.
Anak-Anak Ikut Merasakan Dampaknya
Dampak kusta juga menyentuh generasi berikutnya. Anak dan cucu penyintas sering menghadapi kesulitan ekonomi serta stigma sosial.
Anna Le Thi Trung Hieu menjadi salah satu contohnya. Gadis berusia tujuh tahun itu tinggal bersama neneknya setelah kehilangan ayah dan menghadapi kondisi keluarga yang sulit.
Para suster mengunjungi anak-anak seperti Hieu. Mereka memberikan perhatian dan memastikan keluarga tersebut tidak merasa sendirian.
Pendampingan seperti itu memiliki arti penting. Anak-anak tidak hanya membutuhkan bantuan ekonomi. Mereka juga membutuhkan lingkungan yang menerima dan menghargai mereka.
Karena itu, para suster menggabungkan bantuan sosial dengan pendampingan emosional. Mereka ingin anak-anak tumbuh tanpa membawa stigma dari penyakit yang pernah dialami anggota keluarganya.
Pelayanan Menembus Batas Agama
Pelayanan sosial para biarawati Katolik di Vietnam juga menjangkau kelompok miskin dan rentan lainnya.
Kongregasi Pencinta Salib Suci Hanoi, misalnya, menjalankan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin. Para suster mengadakan pemeriksaan kesehatan dan membagikan obat secara gratis.
Mereka melayani umat Katolik dan masyarakat dari agama lain. Para suster juga mengunjungi lansia serta penyandang disabilitas yang tidak memiliki keluarga untuk merawat mereka.
Pelayanan tersebut menunjukkan perhatian Gereja terhadap martabat setiap manusia. Para suster melihat kebutuhan manusia sebagai prioritas utama.
Kasih Menjadi Kekuatan Utama
Para suster menghadapi banyak tantangan saat menjalankan pelayanan. Sebagian keluarga tinggal jauh dari pusat kota. Jalan menuju rumah mereka juga tidak selalu mudah.
Selain itu, para suster harus mencari dukungan dari para donatur. Mereka membutuhkan bantuan untuk menjaga program tetap berjalan.
Namun, tantangan tersebut tidak menghentikan langkah mereka. Para suster terus mengunjungi keluarga dari waktu ke waktu.
Konsistensi menjadi kekuatan utama dalam pelayanan tersebut. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa masyarakat tidak melupakan para penyintas kusta.
Penyakit Hansen memang terus menurun di Vietnam. Namun, perjuangan melawan stigma membutuhkan waktu lebih panjang.
Karena itu, para biarawati memilih membangun kedekatan. Mereka hadir, mendengarkan, membantu, dan menguatkan.
Memulihkan Martabat Manusia
Pelayanan para biarawati Katolik menghadirkan pesan sederhana. Setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati.
Para penyintas kusta tidak hanya membutuhkan obat. Mereka juga membutuhkan keluarga, sahabat, pekerjaan, pendidikan, dan penerimaan sosial.
Melalui kunjungan rutin, para suster membantu memenuhi kebutuhan tersebut. Mereka juga mengajak masyarakat melihat penyintas kusta sebagai pribadi yang memiliki harapan dan masa depan.
Dengan pendekatan itu, pelayanan Gereja menyentuh persoalan yang lebih luas. Para suster tidak hanya membantu tubuh. Mereka juga mendampingi hati dan kehidupan sosial para penyintas.
Vietnam kini terus mengejar target bebas penularan baru, bebas disabilitas akibat kusta, serta bebas diskriminasi pada 2030. Perjuangan para biarawati ikut memperkuat tujuan tersebut dari tingkat komunitas.
Pada akhirnya, kehadiran para suster menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari tindakan sederhana. Satu kunjungan dapat mengurangi kesepian. Satu bantuan dapat membuka kesempatan. Satu percakapan dapat mengembalikan rasa percaya diri.
Karena itu, pelayanan mereka menjadi tanda harapan bagi para penyintas kusta di Vietnam. Kasih yang konsisten membantu mereka kembali merasakan penerimaan, persaudaraan, dan martabat.




