Biarawati Katolik di Zambia Bantu Anak Tunarungu Meraih Mimpi

renunganhariankatolik.web.id – Para biarawati Katolik di Zambia terus membantu anak-anak tunarungu mengejar pendidikan dan cita-cita. Para Suster Baptistine menjalankan pelayanan tersebut melalui St. Joseph’s School for the Deaf di Lufwanyama.
Sekolah itu memberikan ruang bagi anak-anak dengan gangguan pendengaran untuk belajar, berkembang, dan membangun masa depan. Para suster juga menggunakan bahasa isyarat dalam kegiatan belajar dan pendampingan iman.
Pelayanan tersebut sudah berjalan selama puluhan tahun. Para Suster Baptistine mendirikan sekolah bersama pemerintah Zambia pada 1972.
Sejak awal, sekolah tersebut fokus membantu anak tunarungu dari berbagai wilayah. Kini, sekolah melayani siswa dari tingkat pendidikan anak usia dini hingga Grade 12.
Suster Baptistine Dampingi Anak Tunarungu
Para Suster Baptistine tidak hanya mengajarkan pelajaran sekolah. Mereka juga membantu siswa membangun kepercayaan diri.
Sr. Charity Kaloto, salah satu anggota Suster Baptistine, memimpin St. Joseph’s School. Ia menjelaskan bahwa sekolah ingin membantu setiap anak menemukan kemampuan terbaiknya.
Para guru menggunakan bahasa isyarat untuk menjelaskan berbagai materi. Cara tersebut membantu siswa memahami pelajaran dengan lebih mudah.
Selain akademik, sekolah juga mengembangkan keterampilan praktis. Siswa mengikuti kegiatan pertanian, ekonomi rumah tangga, komputer, serta berbagai kegiatan ekstrakurikuler.
Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya mengejar nilai. Mereka juga mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah lulus.
Guru Tunarungu Jadi Inspirasi Siswa
Salah satu kisah inspiratif datang dari Claude Kayonga. Ia pernah belajar di St. Joseph’s School sebagai siswa tunarungu.
Kayonga mulai belajar di sekolah tersebut pada Grade 3 pada 2002. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia melanjutkan studi matematika di Kitwe College of Education.
Kini, Kayonga kembali ke sekolah tersebut sebagai guru matematika.
Ia mengajarkan matematika menggunakan bahasa isyarat. Pengalaman hidupnya juga membuatnya memahami tantangan yang sering menghadang anak tunarungu.
Kayonga pernah merasa khawatir terhadap masa depannya. Namun, pendidikan membuatnya melihat peluang yang lebih luas.
Kini, ia ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Pada saat yang sama, ia membantu siswa lain mengejar cita-cita.
Kisah Kayonga memberi pesan kuat kepada para siswa. Kondisi pendengaran tidak harus menentukan batas masa depan seseorang.
Siswa Mulai Berani Mengejar Cita-Cita
Kabwe Mukuka menjadi salah satu siswa yang merasakan perubahan tersebut. Siswi kelas 11 itu berasal dari Chingola, Zambia.
Mukuka mengalami gangguan pendengaran setelah menghadapi masalah kesehatan pada masa kanak-kanak. Kondisi tersebut sempat membuatnya merasa bingung dan terasing.
Namun, St. Joseph’s School memberikan lingkungan yang membuatnya kembali percaya diri.
Kini, Mukuka ingin melanjutkan pendidikan dan mengejar cita-citanya. Ia melihat kelas 11 sebagai awal dari perjalanan yang lebih panjang.
Para suster terus mendorong siswa seperti Mukuka agar berani bermimpi. Mereka juga membantu anak-anak memahami bahwa pendidikan dapat membuka lebih banyak kesempatan.
Sekolah Layani Hingga 130 Siswa
St. Joseph’s School for the Deaf melayani sekitar 120 hingga 130 siswa setiap tahun.
Sekolah menerima siswa dari tingkat pendidikan anak usia dini hingga Grade 12. Selain pelajaran umum, sekolah juga memberikan pelatihan keterampilan.
Pertanian menjadi salah satu bidang yang mendapat perhatian besar. Siswa belajar mengenai tanaman, peternakan, dan kegiatan produksi lainnya.
Pada 2025, sekolah meraih gelar juara nasional dalam bidang produksi pertanian. Prestasi tersebut mencakup berbagai kategori seperti tanaman pangan, peternakan, dan budidaya jeruk.
Prestasi itu menunjukkan kemampuan siswa dalam bidang praktis. Sekolah ingin memberi bekal yang bisa mereka gunakan setelah menyelesaikan pendidikan.
Para Suster Cari Anak Tunarungu di Daerah Terpencil
Pelayanan Suster Baptistine tidak berhenti di lingkungan sekolah. Para suster juga mendatangi wilayah terpencil untuk mencari anak-anak yang membutuhkan pendidikan.
Mereka menjalankan program pencarian anak atau child find. Melalui program tersebut, para suster mengunjungi komunitas pedesaan dan mencari anak tunarungu yang belum memperoleh pendidikan.
Tantangan terbesar muncul dari jarak dan stigma.
Sebagian keluarga masih menyembunyikan anak berkebutuhan khusus di rumah. Kondisi tersebut membuat anak kehilangan kesempatan belajar.
Para suster kemudian mengajak keluarga memahami pentingnya pendidikan. Mereka ingin memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk berkembang.
Pendidikan dan Iman Berjalan Bersama
St. Joseph’s School juga memberikan pendidikan agama kepada siswa. Para guru mengajarkan iman Katolik melalui bahasa isyarat.
Pendekatan tersebut membantu siswa mengikuti kehidupan Gereja dengan lebih mudah. Mereka juga dapat memahami doa dan ajaran agama melalui cara komunikasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Para suster melihat pendidikan sebagai bagian dari pelayanan kepada anak-anak. Mereka ingin memberikan dukungan secara menyeluruh.
Karena itu, sekolah tidak hanya mengejar prestasi akademik. Para guru juga membangun karakter, kemandirian, dan rasa percaya diri siswa.
Stigma Masih Jadi Tantangan
Meskipun sekolah terus berkembang, para suster masih menghadapi sejumlah tantangan.
Stigma terhadap anak tunarungu masih muncul di sejumlah komunitas. Sebagian orang tua juga menghadapi kesulitan ketika mencari sekolah khusus.
Masalah transportasi turut menghambat pelayanan. Sekolah membutuhkan dukungan agar dapat menjangkau lebih banyak anak dari wilayah pedesaan.
Sr. Charity Kaloto mengatakan sekolah ingin memperluas jangkauan pelayanan. Para suster terus mencari cara untuk menemukan anak-anak yang belum memperoleh pendidikan.
Langkah tersebut penting karena pendidikan dapat mengubah cara anak melihat masa depan.
Biarawati Dorong Anak Berani Bermimpi
Pelayanan para Suster Baptistine menunjukkan peran pendidikan dalam membuka peluang bagi anak tunarungu.
Mereka tidak melihat kondisi pendengaran sebagai batas bagi masa depan siswa. Sebaliknya, para suster membantu anak menemukan kemampuan dan membangun kepercayaan diri.
Guru seperti Claude Kayonga juga memperkuat pesan tersebut. Ia pernah duduk sebagai siswa di sekolah yang sama.
Kini, ia berdiri di depan kelas sebagai guru. Perjalanan itu memberi contoh nyata kepada siswa bahwa pendidikan dapat membawa perubahan.
Dengan demikian, St. Joseph’s School tidak hanya menjadi tempat belajar. Sekolah itu juga menjadi ruang bagi anak tunarungu untuk menemukan keberanian, keterampilan, dan harapan.
Para Suster Baptistine akan terus mendampingi mereka. Melalui pendidikan dan bahasa isyarat, mereka membantu anak-anak melihat masa depan dengan lebih percaya diri.
Pada akhirnya, setiap anak memiliki hak untuk bermimpi. Para biarawati di Zambia terus memastikan anak-anak tunarungu mendapat kesempatan untuk mengejar mimpi tersebut.




