
renunganhariankatolik.web.id – Ribuan warga Timor-Leste memenuhi sejumlah ruas jalan di Dili pada 1 September 2026.
Mereka menyambut kepulangan abu jenazah tiga pemimpin Gereja yang pernah mendampingi umat dalam masa penuh gejolak.
Ketiga tokoh itu ialah Uskup Jaime Garcia Goulart, Uskup José Joaquim Ribeiro, dan Monsinyur Martinho da Costa Lopes.
Ketiganya menjalankan pelayanan Gereja ketika Timor-Leste menghadapi perang, pendudukan, dan perjuangan menentukan masa depan bangsa.
Pesawat Aero Dili membawa abu jenazah mereka dari Bali menuju Bandara Internasional Presidente Nicolau Lobato.
Ribuan umat kemudian memenuhi jalur menuju pusat kota.
Para pelajar, katekis, imam, biarawan, pramuka, keluarga, dan berbagai kelompok masyarakat ikut menyambut kedatangan mereka.
Presiden José Ramos-Horta juga hadir bersama sejumlah pejabat negara dan pemimpin Gereja.
Momen tersebut sekaligus mempertemukan kembali tiga tokoh Gereja dengan sejarah panjang umat Katolik Timor-Leste.
Tiga Pemimpin Gereja Pulang Setelah Puluhan Tahun
Ketiga pemimpin Gereja tersebut menghabiskan masa terakhir kehidupan mereka di luar Timor-Leste.
Pemerintah dan Gereja kemudian menyusun rencana untuk membawa abu jenazah mereka pulang.
Kesepakatan antara Presiden Ramos-Horta dan Konferensi Waligereja Timor-Leste pada Desember 2025 membuka jalan bagi proses tersebut.
Gereja dan pemerintah kemudian membentuk komisi bersama.
Komisi itu mengatur berbagai kebutuhan untuk proses pemulangan.
Rencana tersebut akhirnya terlaksana pada September 2026.
Kepulangan ini memiliki makna besar bagi umat Katolik dan masyarakat Timor-Leste.
Mereka melihat tiga tokoh tersebut sebagai bagian penting dari perjalanan sejarah bangsa.
Jaime Garcia Goulart Bangun Kembali Gereja Dili
Jaime Garcia Goulart memiliki posisi penting dalam sejarah Gereja Timor-Leste.
Ia menjadi uskup pertama Keuskupan Dili setelah wilayah tersebut terpisah dari Macau.
Ia memimpin Gereja Dili sejak masa pendudukan Jepang hingga periode setelah Perang Dunia II.
Situasi Dili saat itu sangat sulit.
Perang menghancurkan berbagai fasilitas.
Katedral Dili juga mengalami kerusakan berat.
Goulart kemudian membantu membangun kembali kehidupan Gereja.
Ia menghadapi kekurangan imam yang cukup serius.
Karena itu, ia memperkuat pendidikan katekis dan pembinaan calon imam.
Ia juga mendirikan seminari kecil untuk membantu kebutuhan Gereja dalam jangka panjang.
Upaya tersebut memberi dasar bagi perkembangan Gereja lokal.
Goulart memimpin Keuskupan Dili hingga 1967.
José Joaquim Ribeiro Dampingi Rakyat Saat Invasi
José Joaquim Ribeiro melanjutkan karya pastoral setelah Goulart.
Ia memimpin Keuskupan Dili pada periode yang penuh ketegangan.
Ribeiro menghadapi perubahan besar ketika Indonesia menginvasi Timor-Leste pada 7 Desember 1975.
Ia tetap berada di wilayah tersebut selama hampir dua tahun.
Keputusan itu menunjukkan kedekatannya dengan masyarakat yang menghadapi tekanan akibat konflik.
Ribeiro menjalankan pelayanan Gereja di tengah situasi yang tidak mudah.
Ia juga memperkuat hubungan antara Gereja dan umat.
Banyak warga kemudian mengenangnya sebagai pemimpin yang memilih tetap dekat dengan masyarakat.
Kepulangannya ke Timor-Leste kini membawa kembali salah satu bagian penting dari sejarah Gereja.
Martinho da Costa Lopes Jadi Suara bagi Rakyat
Martinho da Costa Lopes memiliki perjalanan yang berbeda.
Ia berasal dari Timor-Leste.
Ia kemudian memegang posisi penting dalam Gereja Dili.
Lopes menjadi administrator apostolik Dili pada 1977.
Ia menjalankan tugas tersebut hingga 1983.
Selama masa pendudukan Indonesia, Lopes semakin dikenal karena keberaniannya menyuarakan penderitaan masyarakat.
Ia mengkritik berbagai pelanggaran hak asasi manusia.
Sikap tersebut membuat namanya mendapat perhatian luas.
Banyak orang kemudian mengenalnya sebagai “suara bagi mereka yang tidak memiliki suara”.
Lopes meninggal di Lisbon pada 1991.
Kini, abu jenazahnya kembali ke tanah yang pernah ia layani.
Ribuan Umat Hadiri Misa di Tasi-Tolu
Perjalanan penghormatan berlanjut pada 2 September.
Gereja mengadakan Misa khusus di Tasi-Tolu, Dili.
Uskup Norberto do Amaral memimpin perayaan tersebut.
Ia juga menjabat sebagai Presiden Konferensi Waligereja Timor-Leste.
Para imam, biarawan, seminaris, pejabat pemerintah, dan ribuan umat menghadiri Misa itu.
Perayaan tersebut juga mengingat Uskup Alberto Ricardo da Silva.
Tokoh ini sudah berada di Dili karena Gereja lebih dulu memindahkan abu jenazahnya dari pemakaman Maloa-Ailok Laran.
Dengan demikian, umat Timor-Leste kini mengenang empat pemimpin Gereja dalam satu rangkaian perayaan.
Keempat tokoh tersebut menjalani pelayanan pada berbagai periode penting dalam sejarah Timor-Leste.
Alberto Ricardo da Silva Hadir dalam Sejarah Santa Cruz
Alberto Ricardo da Silva juga memiliki peran penting dalam sejarah Timor-Leste.
Ia melayani sebagai pastor di Paroki Motael ketika terjadi pembantaian Santa Cruz pada 12 November 1991.
Pasukan Indonesia menembaki demonstran di Dili pada peristiwa tersebut.
Setelah kejadian itu, aparat berulang kali memanggil Silva untuk memberikan keterangan.
Ia kemudian terus mendampingi umat dalam situasi yang penuh tekanan.
Gereja mengenang Silva bersama tiga pemimpin lainnya karena perjalanan mereka berhubungan erat dengan masa sulit Timor-Leste.
Kisah mereka mencakup masa kolonial Portugis, pendudukan Jepang, invasi Indonesia, dan perjuangan menuju kemerdekaan.
Gereja Sebut Mereka sebagai Suara bagi yang Menderita
Kardinal Virgílio do Carmo da Silva menyampaikan makna khusus dari kepulangan tersebut.
Menurutnya, ketiga pemimpin Gereja itu berdiri bersama masyarakat ketika Timor-Leste menghadapi masa paling gelap.
Mereka membela martabat manusia.
Mereka juga menyuarakan harapan masyarakat.
Karena itu, Gereja melihat kepulangan mereka bukan sekadar agenda seremonial.
Peristiwa tersebut juga memperkuat hubungan antara Gereja dan negara.
Selain itu, momen tersebut mengajak generasi muda mengenal sejarah bangsanya.
Umat dapat melihat bagaimana para pemimpin Gereja menjalankan pelayanan dalam kondisi sulit.
Pemerintah dan Gereja Bekerja Sama
Proses pemulangan abu jenazah melibatkan banyak pihak.
Pemerintah Timor-Leste bekerja sama dengan Gereja.
Kedutaan Timor-Leste di Portugal juga membantu proses tersebut.
Komunitas Salesian di Évora ikut mendukung persiapan.
Patriarkat Lisbon dan Keuskupan Évora turut membantu rangkaian penghormatan di Portugal.
Sebelum berangkat menuju Timor-Leste, Gereja mengadakan Misa syukur di Évora pada 18 Agustus.
Sehari kemudian, Gereja mengadakan perayaan kedua di Katedral Évora.
Rangkaian tersebut menunjukkan besarnya perhatian terhadap perjalanan terakhir ketiga tokoh Gereja itu menuju tanah Timor-Leste.
Manatuto Ikut Mengenang Martinho Lopes
Penghormatan terhadap Martinho Lopes juga berlanjut di Manatuto.
Pada 3 September, masyarakat mengenang perjalanan hidupnya melalui sebuah upacara khusus.
Rangkaian tersebut membawa abu jenazah Lopes melewati Laleia.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju Jembatan Manatuto.
Pemerintah juga menyiapkan keputusan khusus dalam rangkaian penghormatan tersebut.
Pemerintah akan menggunakan nama Martinho Lopes untuk jembatan itu.
Langkah tersebut menunjukkan penghargaan negara terhadap peran Lopes dalam sejarah Timor-Leste.
Empat Pemimpin Gereja Akan Berkumpul di Katedral Dili
Rangkaian penghormatan akan mencapai puncaknya pada 10 September 2026.
Gereja akan memakamkan abu jenazah empat pemimpin Gereja di Katedral Metropolitan Dili.
Momen tersebut akan mempertemukan Jaime Garcia Goulart, José Joaquim Ribeiro, Martinho da Costa Lopes, dan Alberto Ricardo da Silva.
Keempat tokoh itu memiliki perjalanan pelayanan yang berbeda.
Namun, sejarah Timor-Leste mempertemukan kisah mereka.
Mereka hadir dalam berbagai periode perubahan politik dan sosial.
Mereka juga menyaksikan penderitaan masyarakat.
Karena itu, umat melihat keempatnya sebagai bagian dari perjalanan Gereja bersama bangsa Timor-Leste.
Kepulangan Mereka Punya Makna bagi Generasi Muda
Kepulangan abu jenazah ketiga pemimpin Gereja tidak hanya berkaitan dengan masa lalu.
Peristiwa ini juga membawa pesan bagi generasi muda.
Timor-Leste memiliki sejarah panjang dalam memperjuangkan hak menentukan masa depan sendiri.
Gereja ikut menjalani perjalanan tersebut.
Para pemimpin Gereja mendampingi masyarakat melalui berbagai masa sulit.
Mereka juga membantu mempertahankan kehidupan iman.
Karena itu, generasi muda dapat belajar tentang keberanian dan pelayanan dari kisah mereka.
Sekolah, paroki, dan komunitas Katolik dapat menggunakan momentum ini untuk mengenalkan sejarah Gereja.
Mereka juga dapat mengajak kaum muda memahami hubungan antara iman, kemanusiaan, dan kehidupan masyarakat.
Gereja Ajak Umat Menjaga Warisan Sejarah
Uskup Norberto do Amaral mengajak umat mengenang keempat pemimpin Gereja secara utuh.
Ia tidak hanya mengingat keberhasilan mereka.
Ia juga mengajak umat melihat keterbatasan manusia.
Dalam Misa di Tasi-Tolu, ia mengajak masyarakat memohon pengampunan atas berbagai kekurangan yang muncul dalam hubungan dengan para pemimpin Gereja tersebut.
Ia juga mengajak umat meminta doa bagi Timor-Leste dan dunia.
Pesan itu memberi dimensi spiritual pada seluruh rangkaian penghormatan.
Gereja ingin umat tidak berhenti pada upacara.
Umat juga perlu meneruskan nilai pelayanan, keberanian, dan kepedulian kepada sesama.
Simbol Persatuan Gereja dan Bangsa
Kepulangan abu jenazah tiga pemimpin Gereja membawa pesan yang lebih luas.
Gereja dan negara bekerja bersama dalam proses tersebut.
Ribuan warga juga menunjukkan penghormatan mereka.
Presiden, pejabat pemerintah, pemimpin Gereja, pelajar, keluarga, dan umat hadir dalam satu rangkaian.
Situasi itu menciptakan suasana persatuan.
Timor-Leste kini mengenang kembali tokoh yang menemani rakyat ketika kondisi negara sangat sulit.
Karena itu, kepulangan mereka menjadi salah satu peristiwa penting bagi Gereja Katolik Timor-Leste pada 2026.
Abu jenazah tiga pemimpin Gereja kini kembali ke tanah yang pernah mereka layani.
Pada 10 September nanti, Gereja akan menyatukan mereka dengan Alberto Ricardo da Silva di Katedral Metropolitan Dili.
Momen tersebut akan menutup perjalanan panjang kepulangan mereka.
Namun, kisah pelayanan mereka akan terus menjadi bagian dari sejarah Gereja dan bangsa Timor-Leste.




