
renunganhariankatolik.web.id – Pengadilan Magistrat Yerusalem mengambil keputusan dalam kasus penyerangan terhadap seorang biarawati Prancis. Hakim membebaskan Yona Simcha Schreiber dari tanggung jawab pidana setelah evaluasi kejiwaan menunjukkan kondisi psikosis saat insiden terjadi.
Pengadilan mengeluarkan putusan tersebut pada Rabu, 26 Agustus 2026. Hakim Ofir Tishler menerima keterangan psikiater yang memeriksa kondisi Schreiber.
Menurut hasil pemeriksaan, Schreiber mengalami episode psikotik ketika menyerang korban. Kondisi itu membuatnya tidak memahami tindakannya secara penuh.
Meski begitu, pengadilan tetap menyatakan Schreiber melakukan serangan tersebut. Hakim kemudian memerintahkan Schreiber menjalani perawatan di rumah sakit jiwa selama maksimal enam tahun.
Pelaku Serang Biarawati di Gunung Zion
Kasus tersebut bermula pada 28 April 2026. Schreiber mendekati seorang biarawati Prancis di kawasan Gunung Zion, Kota Tua Yerusalem.
Rekaman kamera keamanan memperlihatkan gerakan pelaku sebelum serangan. Schreiber mendekati korban dari belakang lalu mendorongnya hingga jatuh.
Pelaku kemudian berjalan menjauh dari lokasi. Namun, ia kembali mendekati korban dan menendangnya ketika korban masih berada di tanah.
Seorang pria lain mencoba menghentikan tindakan tersebut. Warga kemudian membantu korban setelah pelaku meninggalkan lokasi.
Serangan itu menyebabkan korban mengalami luka pada bagian kepala. Korban juga merasakan pusing setelah benturan saat terjatuh.
Polisi Tangkap Schreiber Sehari Setelah Serangan
Polisi Israel menangkap Schreiber pada 29 April, sehari setelah serangan kemudian polisi mengungkap identitas pria tersebut sebagai Yona Simcha Schreiber.
Jaksa selanjutnya menyiapkan perkara terhadap Schreiber. Polisi juga meminta pengadilan memperpanjang masa penahanannya selama proses hukum berjalan.
Jaksa awalnya menghadapi perkara penganiayaan yang memiliki unsur permusuhan terhadap kelompok agama. Namun, proses hukum kemudian berkembang setelah pemeriksaan kondisi kejiwaan Schreiber.
Pengadilan akhirnya menerima hasil evaluasi psikiater. Hakim menyimpulkan kondisi mental Schreiber saat kejadian menghilangkan tanggung jawab pidananya.
Hakim Perintahkan Perawatan Selama Enam Tahun
Keputusan pengadilan tidak berarti Schreiber dapat langsung kembali ke masyarakat. Hakim justru memerintahkan perawatan di rumah sakit jiwa.
Pengadilan menetapkan masa perawatan maksimal enam tahun. Namun, dewan peninjau psikiatri dapat mengevaluasi kondisi Schreiber selama menjalani perawatan.
Dewan tersebut juga memiliki kewenangan untuk mengurangi masa perawatan jika kondisi Schreiber menunjukkan perkembangan yang cukup. Karena itu, keputusan enam tahun tidak otomatis berarti Schreiber harus menjalani seluruh periode tersebut.
Putusan tersebut menempatkan aspek kesehatan jiwa sebagai bagian utama dalam proses hukum. Pengadilan mengakui tindakan kekerasan yang Schreiber lakukan, tetapi kondisi mentalnya memengaruhi pertanggungjawaban pidana.
Perwakilan Biarawati Hormati Putusan
Perwakilan korban menyatakan memahami alasan pengadilan mengambil keputusan tersebut. Namun, pihak korban juga menyampaikan keberatan terhadap hasil pemeriksaan dan putusan hakim.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa kasus ini masih menyisakan persoalan bagi pihak korban. Mereka tetap menghormati proses hukum sambil mempertanyakan sejumlah aspek dalam keputusan tersebut.
Olivier Poquillon, direktur Sekolah Alkitab dan Arkeologi Prancis di Yerusalem, juga menyoroti aspek keamanan. Biarawati yang menjadi korban bekerja sebagai peneliti di lembaga tersebut.
Poquillon berharap Schreiber menjalani seluruh masa perawatan sesuai keputusan pengadilan. Ia menilai langkah tersebut penting untuk menjaga keamanan masyarakat dan membantu pemulihan kondisi psikologis pelaku.
Serangan Terjadi di Lokasi Suci
Serangan terhadap biarawati itu terjadi dekat Cenacle di Gunung Zion. Tempat tersebut memiliki arti penting bagi umat Kristiani dan Yahudi.
Umat Kristiani mengenal kawasan tersebut sebagai lokasi yang berkaitan dengan Perjamuan Terakhir. Sementara itu, tradisi Yahudi mengaitkan kawasan Gunung Zion dengan makam Raja Daud.
Karena itu, insiden tersebut menarik perhatian luas. Serangan terhadap seorang biarawati di lokasi bersejarah itu juga memunculkan kembali pembahasan mengenai keamanan komunitas Kristiani di Yerusalem.
Komunitas Kristiani Soroti Keamanan
Kasus tersebut muncul di tengah kekhawatiran mengenai meningkatnya gangguan terhadap umat Kristiani di Tanah Suci. Sejumlah kelompok pemantau kebebasan beragama mencatat berbagai bentuk pelecehan terhadap komunitas Kristiani.
Bentuk gangguan tersebut mencakup tindakan verbal, penghinaan, peludahan, hingga serangan terhadap individu dan lokasi keagamaan. Data Religious Freedom Data Center mencatat puluhan insiden yang menyasar umat Kristiani di Tanah Suci pada periode April hingga Juni 2026.
Namun, kasus Schreiber memiliki aspek khusus. Pengadilan mengaitkan tindakannya dengan kondisi psikosis yang ia alami ketika menyerang korban.
Karena itu, kasus ini membutuhkan pembahasan yang hati-hati. Kondisi mental pelaku menjadi faktor utama dalam putusan, sementara keamanan komunitas Kristiani tetap menjadi perhatian masyarakat.
Putusan Tidak Hapus Kekhawatiran Korban
Putusan pengadilan menutup satu tahap penting dalam perkara tersebut. Namun, keputusan itu belum menghapus kekhawatiran mengenai keamanan para biarawati, imam, peziarah, dan umat Kristiani yang beraktivitas di Yerusalem.
Komunitas Kristiani membutuhkan lingkungan yang aman untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Mereka juga membutuhkan perlindungan ketika mengunjungi tempat ibadah dan lokasi bersejarah.
Kasus ini sekaligus menunjukkan pentingnya respons cepat terhadap tindak kekerasan. Polisi perlu menangani laporan secara serius. Pemerintah juga perlu memastikan keamanan kelompok agama di ruang publik.
Perawatan Schreiber Jadi Perhatian Berikutnya
Setelah putusan pengadilan, perhatian kini beralih pada proses perawatan Schreiber. Rumah sakit dan dewan peninjau psikiatri akan memantau perkembangan kondisinya.
Masa perawatan dapat berlangsung hingga enam tahun. Namun, evaluasi berkala dapat memengaruhi durasi tersebut.
Sementara itu, kasus penyerangan terhadap biarawati Prancis ini tetap menjadi perhatian komunitas Kristiani di Yerusalem. Mereka berharap aparat terus menjaga keamanan di kawasan Kota Tua.
Putusan pengadilan juga memberikan gambaran mengenai cara hukum menangani pelaku yang mengalami gangguan kejiwaan saat melakukan tindak kekerasan. Hakim mengakui tindakan Schreiber, tetapi kondisi psikosis membuat pengadilan tidak memberikan hukuman pidana biasa.
Dengan demikian, kasus ini tidak sekadar membahas pembebasan seorang pelaku. Perkara tersebut juga memperlihatkan hubungan antara hukum, kesehatan jiwa, dan perlindungan kebebasan beragama di Yerusalem.




