Beatifikasi Uskup Agung Fulton Sheen Tawarkan Teladan Kekudusan dan Misi

renunganhariankatolik.web.id – Gereja Katolik akan menggelar beatifikasi Uskup Agung Fulton J. Sheen pada 24 September 2026 di St. Louis, Missouri.
Cardinal Luis Antonio Tagle akan memimpin Misa beatifikasi tersebut sebagai wakil Paus Leo XIV. Momentum ini membawa sejarah tersendiri bagi Gereja Katolik di Amerika Serikat.
Sheen akan menjadi uskup kelahiran Amerika Serikat pertama yang menjalani beatifikasi.
Sebelumnya, Gereja mengakui kebajikan heroiknya pada 2012. Paus Benediktus XVI kemudian memberinya gelar Venerabilis.
Pada 2019, Paus Fransiskus mengakui mukjizat melalui perantaraan Sheen. Keputusan tersebut membuka jalan menuju beatifikasi.
Kini, Gereja tinggal menunggu pelaksanaan perayaan di St. Louis.
Sheen Punya Cara Khas Menyampaikan Iman
Fulton Sheen memiliki kemampuan komunikasi yang kuat.
Ia menggunakan radio, televisi, buku, dan khotbah untuk menjangkau masyarakat luas. Cara tersebut membuat pesan iman menjangkau orang yang mungkin tidak rutin datang ke gereja.
Pada 1930, Sheen mulai tampil dalam program radio The Catholic Hour. Program tersebut kemudian menjangkau jutaan pendengar.
Pada 1951, ia memulai program televisi Life Is Worth Living.
Acara itu menarik perhatian sekitar 30 juta penonton pada masa puncak popularitasnya.
Sheen memanfaatkan media modern pada zamannya untuk menyampaikan ajaran iman. Ia juga menjelaskan persoalan teologi dengan bahasa yang mudah masyarakat pahami.
Karena itu, warisannya tetap relevan ketika Gereja menghadapi perkembangan teknologi komunikasi.
Paus Leo XIV Soroti Warisan Misioner Sheen
Paus Leo XIV juga menyoroti sosok Sheen dalam pertemuan dengan Pontifical Mission Societies pada Juni 2026 dan menyebut Sheen sebagai cahaya iman, harapan, dan kasih. Ia juga mengingat pengalaman pribadi ketika mengenal karya evangelisasi Sheen.
Paus Leo menilai Sheen memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan iman melalui radio dan televisi selama puluhan tahun.
Pesan tersebut menunjukkan hubungan erat antara warisan Sheen dan misi evangelisasi Gereja.
Sheen tidak hanya berbicara kepada umat yang sudah aktif dalam kehidupan Gereja. Ia juga berusaha menjangkau masyarakat melalui ruang publik.
Pendekatan itu menjadi salah satu ciri kuat pelayanan Sheen.
Misi Menjadi Bagian Penting Kehidupan Sheen
Sheen tidak hanya dikenal sebagai pembicara di televisi.
Ia juga menjalankan tanggung jawab penting dalam karya misi Gereja.
Pada 1950 hingga 1966, Sheen memimpin Propagation of the Faith di Amerika Serikat.
Tugas tersebut mempertemukannya dengan berbagai komunitas misioner di banyak negara.
Sheen melakukan perjalanan untuk melihat kondisi para misionaris secara langsung.
Ia mengunjungi sejumlah wilayah di Amerika Latin dan Afrika. Ia juga melihat kondisi masyarakat yang menghadapi kemiskinan, penyakit, dan keterbatasan akses.
Pengalaman tersebut memperkuat perhatian Sheen terhadap misi universal Gereja.
Ia ingin umat Katolik Amerika memahami bahwa Gereja memiliki tanggung jawab terhadap komunitas di berbagai belahan dunia.
Sheen Membela Martabat Manusia
Warisan Sheen juga mencakup perhatian terhadap martabat manusia.
Ia menentang diskriminasi rasial dan berbagai bentuk kebencian.
Pada masa segregasi rasial masih kuat di Amerika Serikat, Sheen menggunakan pengaruhnya untuk membantu komunitas kulit hitam.
Salah satu contoh muncul pada 1938. Sheen membantu mendukung pelayanan kesehatan bagi perempuan kulit hitam di Mobile, Alabama.
Ia juga menggunakan sumber daya dan jaringan yang ia miliki untuk mendukung pelayanan tersebut.
Langkah itu menunjukkan bahwa karya pastoral Sheen tidak hanya berhenti pada kata-kata.
Ia menghubungkan ajaran tentang martabat manusia dengan tindakan nyata.
Sheen Menghadapi Persoalan Rasial di Amerika
Sheen melihat persoalan rasial sebagai persoalan martabat manusia.
Ia menolak gagasan yang menempatkan satu kelompok lebih tinggi daripada kelompok lain.
Ketika menjadi Uskup Rochester, Sheen kembali berhadapan dengan persoalan ketimpangan sosial dan rasial.
Ia mendorong umat untuk melihat manusia berdasarkan martabatnya sebagai ciptaan Tuhan.
Pemikiran tersebut menjadi bagian dari warisan sosial Sheen.
Ia mengajak umat melihat orang lain bukan berdasarkan warna kulit atau kondisi ekonomi.
Sebaliknya, ia menekankan nilai manusia sebagai pribadi yang memiliki martabat.
Perjalanan Misi Membuka Mata Sheen
Perjalanan misi memberikan pengalaman langsung bagi Sheen.
Ketika mengunjungi Afrika, ia melihat kehidupan komunitas yang menghadapi berbagai keterbatasan.
Ia juga mengunjungi Afrika Selatan dan melihat dampak apartheid.
Pengalaman tersebut memperkuat pandangannya mengenai universalitas Gereja.
Sheen melihat misi sebagai panggilan yang melampaui batas negara, ras, bahasa, dan budaya.
Karena itu, ia terus mendorong umat Katolik untuk mendukung karya misioner.
Ia juga mengajak umat melihat kebutuhan orang lain sebagai bagian dari tanggung jawab iman.
Sheen Menjadi Teladan bagi Evangelisasi
Beatifikasi Sheen membawa perhatian kembali pada cara Gereja menjalankan evangelisasi.
Sheen menggunakan teknologi yang tersedia pada zamannya.
Ia tidak melihat radio dan televisi hanya sebagai hiburan.
Sebaliknya, ia memanfaatkan kedua media tersebut untuk menjelaskan iman.
Pendekatan itu memberikan pelajaran bagi Gereja masa kini.
Teknologi terus berkembang. Media sosial, platform video, podcast, dan berbagai layanan digital kini menjangkau masyarakat dalam skala besar.
Gereja dapat melihat pengalaman Sheen sebagai salah satu contoh bagaimana media dapat mendukung misi.
Namun, pesan Sheen tetap menempatkan iman sebagai pusat komunikasi.
Kekudusan Tidak Hanya Berarti Popularitas
Popularitas Sheen memang menjadi bagian penting dari sejarah hidupnya.
Namun, proses beatifikasi melihat kehidupan seseorang dari perspektif kekudusan Gereja.
Sheen menjalankan pelayanan sebagai imam, pendidik, uskup, penulis, dan penginjil.
Ia menggunakan berbagai peran tersebut untuk mendekatkan orang kepada Kristus.
Gereja juga melihat kesaksian hidup, kebajikan, dan pengaruh spiritualnya.
Karena itu, beatifikasi tidak hanya mengingatkan umat pada sosok terkenal di televisi.
Perayaan tersebut juga mengajak umat melihat perjalanan iman Sheen secara lebih menyeluruh.
Beatifikasi Sheen Jadi Momen Bersejarah
Perayaan pada 24 September akan berlangsung di Dome at America’s Center, St. Louis.
Rangkaian acara juga mencakup kegiatan doa, refleksi, dan berbagai program yang mengiringi Misa beatifikasi.
Banyak umat dari berbagai wilayah Amerika Serikat mempersiapkan perjalanan menuju St. Louis.
Keuskupan Peoria dan berbagai komunitas Katolik ikut menyiapkan kegiatan untuk memperingati momentum tersebut.
Perhatian besar itu menunjukkan kuatnya warisan Sheen di kalangan umat Katolik Amerika.
Teladan Sheen Tetap Relevan
Beatifikasi Fulton Sheen menghadirkan kesempatan bagi Gereja untuk melihat kembali arti misi dan evangelisasi.
Sheen menunjukkan bahwa seorang pelayan Gereja dapat memanfaatkan media untuk menyampaikan pesan iman.
Ia juga menunjukkan pentingnya keberanian menghadapi persoalan sosial.
Perhatiannya terhadap masyarakat miskin dan komunitas yang mengalami diskriminasi memperluas makna pelayanan pastoral.
Di sisi lain, perjalanan misionernya menunjukkan perhatian terhadap Gereja di berbagai negara.
Karena itu, warisan Sheen mencakup lebih dari sekadar khotbah dan program televisi.
Ia meninggalkan contoh tentang bagaimana iman dapat mendorong seseorang untuk mengajar, melayani, berkomunikasi, dan membela martabat manusia.
Kini, menjelang beatifikasi pada 24 September 2026, Gereja kembali mengarahkan perhatian kepada perjalanan hidupnya.
Gelar Beato akan menandai tahap baru dalam perjalanan Sheen menuju kemungkinan kanonisasi.
Bagi umat Katolik, perayaan tersebut juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali panggilan menuju kekudusan dan misi.
Pesan hidup Sheen tetap sederhana. Gereja dapat membawa iman kepada masyarakat melalui berbagai cara, tetapi setiap usaha tetap perlu mengarah pada Kristus dan pelayanan kepada sesama.




