Gereja Katolik Korea Bentuk Dewan Nasional untuk Hadapi Krisis Kecanduan

renunganhariankatolik.web.id – Gereja Katolik Korea Selatan mengambil langkah baru untuk menghadapi masalah kecanduan yang terus berkembang. Gereja membentuk Catholic Addiction Research and Practice Council atau dewan penelitian dan praktik kecanduan Katolik.
Dewan tersebut mulai bekerja melalui kolaborasi sejumlah lembaga. Mereka menggabungkan keahlian medis, akademik, penelitian, rehabilitasi, dan pelayanan pastoral.
Langkah ini muncul ketika bentuk kecanduan di Korea Selatan semakin beragam. Masalah tersebut tidak lagi hanya berkaitan dengan alkohol atau perjudian. Narkoba dan penggunaan media digital secara berlebihan juga menjadi perhatian.
Gereja Korea Satukan Banyak Keahlian
Gereja Katolik Korea meluncurkan dewan tersebut pada 4 September 2026 di Seoul. Kegiatan perdana berlangsung di Seongui Campus milik Catholic University of Korea.
Beberapa lembaga ikut membangun kerja sama tersebut. Mereka mencakup Departemen Psikiatri Catholic University of Korea College of Medicine, Department of Addiction, Addiction Research Institute, Korea Addiction Research Foundation, serta Addiction Pastoral Committee dari Keuskupan Agung Seoul.
Para pihak kemudian menandatangani nota kesepahaman. Kesepakatan itu menjadi dasar untuk memperkuat kerja sama dalam menghadapi persoalan kecanduan.
Dengan kerja sama tersebut, setiap lembaga dapat menggabungkan pengalaman masing-masing. Tim medis dapat memperkuat layanan kesehatan. Peneliti dapat mengembangkan kajian baru.
Sementara itu, lembaga rehabilitasi dapat membantu proses pemulihan. Gereja juga dapat mendampingi individu dan keluarga melalui pelayanan pastoral.
Jenis Kecanduan Semakin Beragam
Dewan baru ini melihat kecanduan sebagai persoalan yang memiliki banyak bentuk. Alkohol dan perjudian masih menjadi perhatian penting.
Namun, perkembangan teknologi menghadirkan tantangan baru. Penggunaan internet, gim, media sosial, dan perangkat digital secara berlebihan dapat mengganggu kehidupan sehari-hari.
Anak muda juga menghadapi risiko yang semakin kompleks. Mereka dapat menemukan perjudian online, konten berbahaya, serta informasi tentang narkoba melalui internet.
Karena itu, Gereja Katolik Korea ingin memperluas pendekatan pencegahan. Gereja tidak hanya menunggu seseorang mengalami masalah. Mereka juga ingin mendorong edukasi sejak tahap awal.
Fokus pada Pengobatan dan Pemulihan
Dewan tersebut tidak hanya mengandalkan pendekatan keagamaan. Mereka juga ingin menggabungkan ilmu kedokteran dan penelitian.
Pendekatan ini penting karena kecanduan dapat memengaruhi banyak aspek kehidupan. Masalah tersebut dapat mengganggu kesehatan, pekerjaan, hubungan keluarga, dan kehidupan sosial.
Karena itu, proses pemulihan membutuhkan dukungan yang berkelanjutan. Seseorang tidak cukup hanya menghentikan perilaku yang membuatnya kecanduan.
Mereka juga perlu membangun kembali hubungan dengan keluarga. Mereka perlu menemukan pola hidup yang sehat. Selain itu, mereka membutuhkan lingkungan yang dapat mendukung proses pemulihan.
Penelitian mengenai komunitas terapi Kristen di Korea juga menunjukkan pentingnya hubungan sosial dan dukungan spiritual. Sebuah studi pada 2026 menemukan bahwa peserta terapi mengalami proses pemulihan melalui kesadaran diri, pemulihan hubungan, kehidupan komunitas, dan pertumbuhan spiritual.
Gereja Ingin Dampingi Keluarga
Masalah kecanduan tidak hanya memengaruhi orang yang mengalami ketergantungan. Keluarga juga sering menghadapi tekanan besar.
Karena itu, pelayanan Gereja dapat memainkan peran penting dalam pendampingan. Keluarga membutuhkan ruang untuk berbicara dan mendapatkan bantuan.
Selain itu, masyarakat perlu mengurangi stigma terhadap orang yang sedang menjalani pemulihan. Stigma dapat membuat seseorang semakin sulit mencari bantuan.
Gereja Korea ingin membangun lingkungan yang mendukung proses tersebut. Pendekatan ini menggabungkan layanan profesional dengan pendampingan manusiawi.
Dengan demikian, orang yang mengalami kecanduan dapat memperoleh bantuan tanpa merasa sendirian.
Narkoba dan Kecanduan Digital Jadi Perhatian
Dewan baru juga memperhatikan perkembangan masalah narkoba di Korea Selatan. Pemerintah dan tenaga kesehatan terus mencari pendekatan yang lebih efektif untuk menangani ketergantungan.
Pada 2026, Korea Selatan juga mengembangkan program terapi berbasis cognitive behavioral therapy atau CBT untuk membantu penanganan kecanduan narkoba. Program tersebut menyesuaikan pendekatan terapi dengan kondisi sosial dan budaya Korea.
Di sisi lain, kecanduan digital membutuhkan perhatian berbeda. Pengguna dapat menghabiskan banyak waktu dengan perangkat tanpa menyadari dampaknya.
Penggunaan berlebihan dapat mengganggu tidur dan konsentrasi. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi hubungan sosial dan kesehatan mental.
Karena itu, pencegahan perlu menyasar berbagai kelompok usia. Sekolah, keluarga, komunitas, dan gereja dapat ikut mengambil peran.
Gereja Dorong Pendekatan yang Lebih Menyeluruh
Peluncuran dewan ini menunjukkan perubahan pendekatan Gereja Katolik Korea terhadap masalah kecanduan. Gereja ingin menggabungkan pelayanan pastoral dengan ilmu pengetahuan.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan perkembangan pelayanan kesehatan dan rehabilitasi di Korea Selatan.
Selain itu, Gereja telah memiliki pengalaman dalam mendampingi orang yang menghadapi masalah kecanduan. Lembaga Katolik di Korea selama ini menjalankan pelayanan pendampingan dan rehabilitasi.
Kini, berbagai pengalaman tersebut dapat terhubung melalui satu wadah. Kerja sama itu diharapkan menghasilkan program pencegahan dan pemulihan yang lebih terarah.
Langkah Baru Hadapi Krisis Kecanduan
Pembentukan Catholic Addiction Research and Practice Council menjadi langkah penting bagi Gereja Katolik Korea. Dewan ini membawa pendekatan yang lebih luas dalam menghadapi kecanduan.
Mereka tidak hanya membahas alkohol dan perjudian. Mereka juga memasukkan narkoba serta kecanduan media digital dalam agenda kerja.
Selanjutnya, kolaborasi antara dokter, peneliti, tenaga rehabilitasi, dan pekerja pastoral dapat memperkuat layanan bagi masyarakat.
Pada akhirnya, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada pengobatan. Dukungan keluarga, lingkungan sosial, dan komunitas juga memegang peranan besar.
Gereja Korea kini mencoba membangun jaringan tersebut. Langkah ini diharapkan membantu lebih banyak orang keluar dari jerat kecanduan dan kembali menjalani kehidupan secara sehat.




