Umat Katolik Lembata Berduka, Pater Nicholas Strawn SVD Wafat

renunganhariankatolik.web.id – Umat Katolik Lembata, Nusa Tenggara Timur, merasakan kehilangan besar. Pater Nicholas Strawn, SVD, wafat pada Selasa, 4 Agustus 2026.
Imam asal Amerika Serikat itu mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Bukit Lewoleba. Ia menghabiskan lebih dari enam dekade untuk melayani Gereja di Indonesia.
Umat Lembata mengenal Nicholas dengan sapaan Pater Niko. Ia datang sebagai misionaris dari negeri jauh. Namun, perjalanan panjang membuatnya tumbuh sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat Lembata.
Pater Niko meninggalkan warisan iman yang kuat. Ia juga meninggalkan kenangan tentang kesederhanaan, keramahan, dan kedekatannya dengan umat.
Pater Niko Mengabdi Lebih dari Enam Dekade
Nicholas Strawn lahir di Iowa, Amerika Serikat, pada September 1934. Ia bergabung dengan Serikat Sabda Allah atau SVD sejak usia muda.
Pater Niko mengucapkan kaul pertamanya pada 1954. Ia kemudian menerima tahbisan imam pada 1962.
Setahun kemudian, ia berangkat menuju Indonesia. Ia tiba pada Oktober 1963 untuk menjalankan tugas misioner pertamanya.
Perjalanan tersebut menjadi awal pengabdian panjang di tanah misi. Setelah menjalani tugas awal di Flores, Pater Niko kemudian menuju Lembata.
Ia memulai pelayanan di Paroki Hati Kudus Yesus Lerek pada Februari 1964. Selama 24 tahun, ia mendampingi umat Lerek.
Pada 1987, ia melanjutkan pelayanan di Paroki Santo Yosef Boto. Ia kembali membangun kedekatan dengan umat melalui pelayanan pastoral sehari-hari.
Pater Niko menjalani sekitar 62 tahun kehidupan imamat dengan semangat misioner. Ia terus mendampingi umat hingga usia lanjut.
Lembata Menjadi Rumah bagi Pater Niko
Pater Niko tidak hanya menjalankan tugas pastoral. Ia juga menjadikan Lembata sebagai rumahnya.
Ketika kondisi kesehatannya mulai menurun, SVD sempat mengajak Pater Niko tinggal di Rumah Simeon, Ledalero. Tempat itu merawat para misionaris lanjut usia dan mereka yang membutuhkan perhatian khusus.
Namun, Pater Niko memilih tetap tinggal di Lembata. Ia ingin berada dekat dengan umat yang sudah mengenalnya selama puluhan tahun.
Pilihan tersebut menunjukkan kedekatan emosional Pater Niko dengan masyarakat Lembata. Ia tidak lagi melihat pulau itu sebagai tempat tugas.
Baginya, Lembata telah menjadi rumah.
Ia kemudian menjalani perawatan di Rumah Sakit Bukit Lewoleba. Di tempat itu pula ia menghabiskan masa terakhir kehidupannya.
Umat Mengenang Sosok yang Sederhana
Umat Lembata mengenang Pater Niko sebagai imam yang sederhana. Ia juga dikenal ramah dan mudah dekat dengan masyarakat.
Ia tidak membangun jarak dengan umat. Sebaliknya, ia hadir dalam berbagai situasi kehidupan.
Pater Niko mendampingi umat dalam perayaan Ekaristi. Ia juga mengunjungi komunitas dan stasi yang berada jauh dari pusat paroki.
Pada masa awal pelayanannya, kondisi Lembata jauh berbeda dengan sekarang. Jalan dan fasilitas komunikasi masih terbatas.
Para misionaris harus menempuh perjalanan panjang untuk mengunjungi umat. Pater Niko menjalani kondisi tersebut dengan penuh ketekunan.
Ia bahkan menggunakan kuda dan sepeda motor untuk menjangkau sejumlah wilayah pelayanan. Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari kenangan masyarakat tentang dirinya.
Pater Niko Mendorong Banyak Panggilan
Pengabdian Pater Niko juga menyentuh bidang pendidikan dan pembinaan kaum muda.
Ia mendorong para seminaris untuk tekun belajar. Selain itu, ia mengajak mereka memperkuat kehidupan doa.
Paroki Lerek kemudian melahirkan banyak panggilan imam dan biarawan-biarawati. Data yang dikutip dalam laporan mengenai Pater Niko menyebut sekitar 50 imam lahir dari lingkungan pastoral paroki tersebut.
Nama Uskup Emeritus Jayapura Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM, termasuk dalam jajaran imam yang memiliki hubungan dengan perjalanan panggilan dari wilayah tersebut.
Karena itu, warisan Pater Niko tidak hanya terlihat dalam bangunan gereja. Warisan tersebut tumbuh melalui manusia yang ia dampingi.
Ia menanam benih panggilan. Generasi berikutnya kemudian meneruskan pelayanan Gereja.
Uskup Larantuka Kenang Kesetiaan Pater Niko
Uskup Larantuka Mgr. Yohanes Hans Monteiro memimpin misa penghormatan terakhir bagi Pater Niko.
Perayaan Ekaristi berlangsung di Gereja Santa Maria Baneux Lewoleba pada Kamis, 6 Agustus 2026.
Para imam, biarawan, biarawati, tokoh masyarakat, dan umat hadir dalam perayaan tersebut. Kehadiran mereka menunjukkan besarnya penghormatan terhadap perjalanan hidup sang misionaris.
Dalam homilinya, Mgr. Yohanes menyoroti kesetiaan Pater Niko. Ia melihat sang misionaris sebagai sosok yang menyerahkan hidupnya untuk melayani umat Lembata.
Pater Niko memilih hidup sederhana. Ia juga terus berjalan bersama masyarakat dalam berbagai keadaan.
Misa tersebut sekaligus menjadi momentum bagi umat untuk mengenang seluruh perjalanan pelayanannya.
Kepergian Pater Niko Menutup Satu Era
Wafatnya Pater Niko memiliki makna lebih luas bagi sejarah Gereja di Lembata.
Kepergiannya menandai berakhirnya generasi misionaris asing yang pernah memainkan peran penting dalam perkembangan Gereja setempat.
Para misionaris SVD datang ke wilayah tersebut pada masa ketika Gereja lokal masih berkembang. Mereka membangun komunitas, mendampingi umat, serta membantu menumbuhkan pendidikan dan panggilan hidup bakti.
Pater Niko menjadi salah satu sosok yang bertahan paling lama dalam perjalanan tersebut.
Ia datang dari Amerika Serikat. Namun, enam dekade pelayanan membuat masyarakat Lembata mengenalnya sebagai bagian dari kehidupan mereka.
Karena itu, umat tidak hanya mengenang seorang imam asing. Mereka mengenang seorang gembala yang ikut membentuk perjalanan iman masyarakat.
Warisan Pater Niko untuk Generasi Berikutnya
Pater Niko meninggalkan pesan melalui cara hidupnya.
Ia menunjukkan bahwa pelayanan membutuhkan kesetiaan. Ia juga memperlihatkan pentingnya kedekatan dengan umat.
Lebih jauh, kehidupannya menunjukkan bahwa karya misioner tidak berhenti pada pewartaan melalui kata-kata.
Seorang misionaris juga hadir melalui tindakan. Ia mendengar keluhan umat. Ia menemani keluarga. Ia membina anak muda. Ia mendukung calon imam dan biarawan.
Pater Niko menjalani semua itu selama puluhan tahun.
Kini umat Lembata melanjutkan perjalanan Gereja tanpa sosok yang selama puluhan tahun mereka kenal. Namun, nilai pelayanan yang ia tanam tetap dapat tumbuh.
Generasi muda dapat meneruskan semangat tersebut. Para imam lokal juga dapat menjaga kedekatan dengan umat.
Dengan demikian, wafatnya Pater Niko tidak hanya menghadirkan duka. Peristiwa itu juga mengajak umat melihat kembali sejarah panjang Gereja di Lembata.
Pater Nicholas Strawn datang sebagai misionaris dari Amerika Serikat. Ia kemudian memilih Lembata sebagai rumah pengabdiannya.
Kini ia meninggalkan tanah yang ia cintai. Namun, umat Lembata tetap membawa kenangannya dalam perjalanan iman mereka.
Selamat jalan, Pater Niko. Jejak pelayananmu tetap hidup dalam Gereja dan masyarakat Lembata.




