
renunganhariankatolik.web.id – Hujan deras mengguyur Islamabad dan Rawalpindi, Pakistan, pada Selasa, 1 September 2026. Hujan tersebut memicu banjir di sejumlah kawasan.
Cuaca ekstrem itu juga menelan korban jiwa. Tiga orang tewas dalam beberapa insiden terkait hujan di wilayah Islamabad dan Rawalpindi.
Selain itu, kondisi tersebut mengganggu kegiatan pendidikan. Sebanyak 22 sekolah Katolik di sekitar wilayah ibu kota ikut terdampak akibat penutupan sekolah dan gangguan aktivitas masyarakat.
Hujan kali ini juga mencapai intensitas tertinggi dalam tiga tahun terakhir menurut otoritas meteorologi Pakistan. Beberapa kawasan menerima curah hujan hingga sekitar 200 milimeter.
Tiga Orang Tewas Akibat Hujan Deras
Hujan deras memicu beberapa kejadian fatal di Islamabad dan Rawalpindi.
Di kawasan G-14 Islamabad, seorang pria berusia 20 tahun bernama Faizan Ashraf meninggal setelah atap rumah sementara runtuh. Insiden itu juga membuat Raz Mohammad, 65 tahun, mengalami luka serius.
Petugas penyelamat segera menuju lokasi setelah menerima laporan. Mereka kemudian membawa kedua korban ke rumah sakit.
Namun, kondisi Faizan tidak tertolong. Dokter menyatakan ia meninggal dunia setelah tiba di fasilitas kesehatan.
Insiden lain terjadi di kawasan I-9/1. Seorang remaja berusia 17 tahun bernama Yahswa Azhar tenggelam setelah air deras menyeretnya ke saluran air dekat Esa Nagri.
Tim penyelamat kemudian mencari korban di sekitar saluran tersebut. Peristiwa itu menambah jumlah korban meninggal akibat hujan di kawasan ibu kota.
Air Meluap di Sejumlah Kawasan
Curah hujan tinggi membuat sejumlah saluran air tidak mampu menampung debit air.
Nullah Lai menjadi salah satu titik perhatian utama. Ketinggian air di Kattarian mencapai sekitar 29,5 kaki. Sementara itu, permukaan air di Gawalmandi mencapai sekitar 20 kaki.
Kondisi tersebut membuat warga di sekitar saluran air menghadapi risiko banjir.
Air juga menggenangi jalan dan area permukiman. Kawasan E-11 mengalami banjir setelah hujan mencapai sekitar 150 milimeter.
Genangan masuk ke sejumlah ruang bawah tanah bangunan. Air juga menghambat kendaraan yang melintas.
Di Rawalpindi, sejumlah ruas jalan mengalami kondisi serupa. Air menggenangi kawasan rendah dan membuat aktivitas warga terganggu.
Sekolah Tutup untuk Lindungi Siswa
Hujan deras juga memengaruhi kegiatan pendidikan di Islamabad dan Rawalpindi.
Pemerintah setempat menutup sekolah dan lembaga pendidikan pada 1 September. Keputusan itu muncul setelah permukaan air di sejumlah saluran mencapai level berbahaya.
Langkah tersebut turut memengaruhi sekolah Katolik di wilayah ibu kota.
Laporan terbaru mencatat 22 sekolah Katolik di sekitar kawasan tersebut ikut terdampak. Jumlah itu mencakup sekolah yang berada di Rawalpindi dan wilayah sekitar Islamabad.
Penutupan sekolah membantu mengurangi risiko bagi siswa, guru, dan tenaga pendidikan. Selain itu, kondisi jalan yang tergenang menyulitkan perjalanan menuju sekolah.
Sekolah juga perlu menyesuaikan kegiatan belajar dengan kondisi cuaca. Pihak pengelola harus memantau perkembangan banjir sebelum membuka kembali kegiatan pendidikan.
Puluhan Sekolah Katolik Ikut Menghadapi Gangguan
Sekolah Katolik memiliki peran penting dalam pendidikan masyarakat Pakistan.
Karena itu, gangguan akibat banjir tidak hanya memengaruhi proses belajar. Kondisi tersebut juga mengganggu aktivitas guru, siswa, serta keluarga mereka.
Sebagian sekolah berada di wilayah yang menghadapi genangan. Sekolah lain terkena dampak dari penutupan umum yang pemerintah terapkan di Islamabad dan Rawalpindi.
Keputusan menutup sekolah menjadi langkah pencegahan. Pemerintah perlu memastikan kondisi jalan dan lingkungan kembali aman sebelum siswa kembali belajar.
Selain itu, keluarga siswa juga menghadapi tantangan transportasi. Genangan di berbagai ruas jalan membuat perjalanan menjadi lebih sulit.
Pemerintah Siagakan Tim Darurat
Otoritas Pakistan meningkatkan kesiagaan menghadapi dampak hujan.
Rescue 1122 mengevakuasi sekitar 60 orang di sejumlah kawasan Rawalpindi. Tim penyelamat membantu warga yang menghadapi genangan dan kondisi darurat.
Petugas juga memantau perkembangan air di Nullah Lai. Pemerintah meminta warga di sekitar saluran air meningkatkan kewaspadaan.
Sementara itu, lembaga pengelola air dan sanitasi menjalankan operasi penanganan banjir. Mereka mengerahkan pompa dan peralatan untuk membantu mengurangi genangan.
Petugas lalu lintas juga mengingatkan pengendara agar berhati-hati. Jalan basah dan genangan dapat meningkatkan risiko kecelakaan.
Hujan Capai Intensitas Tertinggi dalam Tiga Tahun
Pakistan Meteorological Department mencatat curah hujan sangat tinggi di beberapa wilayah.
Rawalpindi menerima sekitar 200 milimeter hujan. Shamsabad bahkan mencatat sekitar 201 milimeter. New Kattarian menerima sekitar 186 milimeter, sedangkan Golra mencatat sekitar 157 milimeter.
Angka tersebut menunjukkan tingginya intensitas hujan pada periode tersebut.
Hujan berlangsung sejak dini hari dan terus memengaruhi aktivitas warga. Air kemudian mengalir menuju saluran utama dan meningkatkan tekanan pada sistem drainase.
Kondisi itu memicu banjir di sejumlah kawasan rendah. Rumah, jalan, kendaraan, serta fasilitas umum ikut menghadapi dampak genangan.
Sejumlah Bangunan Mengalami Kerusakan
Hujan deras juga memicu kerusakan pada beberapa bangunan.
Dinding luar sebuah sekolah pemerintah di G-6 runtuh. Dinding sekolah lain di Lakhwal juga mengalami kerusakan.
Beruntung, insiden tersebut tidak menimbulkan korban. Namun, kerusakan tersebut menunjukkan besarnya tekanan akibat hujan dan genangan.
Petugas terus memeriksa sejumlah lokasi yang menghadapi risiko serupa. Pemerintah juga perlu memastikan fasilitas pendidikan tetap aman sebelum siswa kembali ke sekolah.
Selain sekolah, sejumlah kendaraan mengalami kerusakan akibat banjir. Genangan juga mengganggu akses menuju beberapa kawasan perdagangan.
Warga Hadapi Gangguan Transportasi
Banjir membuat perjalanan warga Islamabad dan Rawalpindi semakin sulit.
Air menggenangi sejumlah jalan utama. Kondisi tersebut membuat kendaraan bergerak lebih lambat.
Beberapa ruas jalan bahkan mengalami penghentian lalu lintas sementara. Polisi lalu lintas mengatur pergerakan kendaraan untuk mengurangi risiko kecelakaan.
Warga juga menghadapi gangguan layanan listrik di sejumlah wilayah Rawalpindi. Gangguan internet sempat terjadi di beberapa kawasan.
Karena itu, pemerintah meminta masyarakat membatasi perjalanan yang tidak mendesak.
Cuaca Ekstrem Masih Perlu Diwaspadai
Hujan deras di Islamabad dan Rawalpindi menunjukkan risiko cuaca ekstrem di Pakistan.
Tiga orang kehilangan nyawa dalam insiden terkait hujan. Puluhan warga juga membutuhkan bantuan penyelamatan.
Di sisi lain, 22 sekolah Katolik ikut merasakan dampak gangguan pendidikan. Penutupan sekolah membantu melindungi siswa ketika banjir mengganggu sejumlah kawasan.
Otoritas meteorologi juga memperkirakan hujan masih dapat turun setelah kejadian tersebut. Karena itu, warga perlu mengikuti informasi cuaca dan arahan petugas.
Pemerintah juga perlu menjaga kesiagaan di kawasan rawan banjir. Langkah tersebut penting untuk mencegah korban tambahan.
Dengan kondisi tersebut, Islamabad dan Rawalpindi masih menghadapi tantangan setelah hujan deras. Pemerintah, sekolah, serta masyarakat perlu bekerja sama untuk menjaga keselamatan dan memulihkan aktivitas secara bertahap.




